Rabu, 19 September 2012

I. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

LANDASAN TEORI

I.      PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

A.    PENGERTIAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh Dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan tievsasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang Dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur Dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta  sosialisasi dan kemandirian.

Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhi nya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi Dan sosialisasi. Ke semua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan  manusia yang utuh.

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam strukrur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan,sebagai hasil dari proses pematangan.

Proses pematangan:proses diferensiasi dari sel sel tubuh,jaringan tubuh,organ organ dan sistem organ yang berkembang termasuk juga perkembangan emosi,intelektual dan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
B.     CIRI – CIRI DAN PRINSIP TUMBUH KEMBANG ANAK
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

1)                                          Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak Dan serabut saraf.
2)      Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya.
Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.
3)                                          Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ Dan perkembangan pada masing-masing anak.
4)                                          Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung dapat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat akan bertambah umur, bertambah berat dan tinggi ' badannya serta bertambah kepandaiannya.
5)                                          Perkembangan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
·         Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kedua anggota tubuh (pola sefalokaudal).
·         Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah p- 6'f\-simal (gerak kasar) lalu
·         berkembang ke bagian distal seperti jai-jai yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
6)  Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya. Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
§  Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
§  Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan Dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh, kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.
§  Pola perkembangan dapat diramalkan.
§  Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan  .demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, Dan terjadi berkesinambungan.

C.    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS TUMBUH KEMBANG ANAK

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan Dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1.                                          Faktor dalam ( internal ) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak
·         Ras/etnik atau bangsa Ras Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
·         Keluarga. Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus.
·         Umur. Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertarna kehidupan Dan masa remaja.
·         Jenis kelamin. Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
·         Genetik. Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.
·         Kelainan kromosom. Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti: pada sindroma Down's dan sindroma Turner's.

2.                                          Faktor luar ( eksternal )
a.       Faktor Prenatal
1.      Gizi     : Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan, janin.
2.      Mekanis           : Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti Dub foot
3.      Toksin/zat kimia          : Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabk kelainan kongenital seperti palatoskisis.
4.      Endokrin                     :Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperpla adrenal.
5.      Radiasi                        :Paparan radium Dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan  kelainan pada jantung seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota ger kelainan kongential mata, kelainan jantung.
6.      Infeksi             :Infeksi pada trimester pertama Dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung kongenital.
7.      Kelainan imunologi     : Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
8.      Anoksia embrio                       : Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.
9.      Psikologi ibu               : Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada hamil dan lain-lain.
b.      Faktor persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat   menyebabkan kerusakan jaringan otak.
c.       Faktor Postnatal
a.       Gizi     : Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
b.      Penyakit kronis/ kelainan kongenital..
c.       Lingkungan fisis dan kimia     : Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang be'i sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, za: tertentu (Pb, Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.
d.      Psikologis        : Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
e.       Endokrin         : Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
f.       Sosio-ekonomi            :Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan Ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.
g.      Lingkungan pengasuhan         : Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
h.      Stimulasi         : Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu Dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
i.        Obat-obatan    : Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

D.    ASPEK – ASPEK PERKEMBANGAN YANG DIPANTAU

1.      Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan Dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2.      Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu Dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang certnat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya.
3.      Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.
4.      Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, ber sosialisasi Dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.

E.     PERIODE TUMBUH KEMBANG ANAK

Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa.Tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut:
1.      Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan). Masa ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu :
·   mudigah sejak saat konsepsi samnai umur kehamilan 2 minggu.
·   Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu. Ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam tubuh.
·   Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu:
ü   Masa fetus dini yaitu sejak urnur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke2 kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi  percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna. Afat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi.
ü   Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi. Terjadi transfer Imunoglobin G(Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esensial seri Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega 6 (Arachidonic Acid) pada otak dan retina.

Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan. Pada periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman ber alkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, faktor psikologis seperti kekerasan terhadap ibu hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pertumbuhan janin dan kehamilan. Pada setiap ibu hamil, dianjurkan untuk selalu memperhatikan gerakan janin setelah kehamilan 5 bulan.

Agar janin dalam kandungan tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, maka selama masa intra uterin, seorang ibu diharapkan :
a.       Menjaga kesehatannya dengan baik.
b.      Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan.
c.       Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya.
d.      Memeriksa kesehatannya secara teratur ke sarana kesehatan.
e.       Memberi stimulasi dini terhadap janin.
f.       Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan keluarganya.
g.      Menghindari stres baik fisik maupun psikis.
h.      Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi kehamilannya.

2.      Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan. Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu :
a.       Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari. Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta• mulainya berfungsi organ-organ. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
-                                              Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari.
-                                              Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
 b.   Masa pasca neonatal : 29 hari – 1 tahun

Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat adalah:
§  Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana kesehatan yang memadai.
§  Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan terlambat pergi ke sarana kesehatan bila dirasakan sudah saatnya untuk melahirkan.
§  Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat menenangkan perasaan ibu.
§  Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan penuh rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya.
§  Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap diperhatikan oleh karena berhubungan dengan masalah pemberian ASI.
§  Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan. , Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat clan proses pematangan berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi sistem saraf. Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai unit pertama yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai.
§  Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu clan anak terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 92-59 bulan). Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi clan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf clan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga ber sosialisasi. Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.

3.      Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan). Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir. Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka lingkungan di luar rumah mulai diperkenalkan. Anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan banyak keluarga yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman kota, atau ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk anak. Sepatutnya lingkungan tersebut menciptakan suasana bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly environment). Semakin banyak taman kota atau taman bermain dibangun untuk anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak. Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistim reseptor penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara bermain. Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya, agar dapat dilakukan intervensi dini bila anak mengalami kelainan atau gangguan.

F.     TAHAPAN PERTUMBUHAN ANAK

1.                                          Berat badan
·                                             Pada bayi cukup bulan, BB lahir akan kembali pada hari ke – 10
·                                             Perkiraan kenaikan BB anak   :
-                                  Umur 5 bulan        : 2 kali BB lahir
-                                  Umur 1 tahun        : 3 kali BB lahir
-                                  Umur 2 tahun        : 4 kali BB lahir
-                                  Masa pra sekolah   : Rata – rata 2 kg / tahun
-                                  Pre – adolescent growt spurt        : 3 – 3,5 kg / tahun

2.      Tinggi badan
§          Tinggi badan rata – rata pada waktu lahir adalah 50 cm
§          Secara garis besar TB anak dapat diperkiraan sbb :
-                      Umur 1 tahun              : 1,5 kali TB lahir
-                      Umur 4 tahun              : 2 kali TB lahir
-                      Umur 6 tahun              : 1,5 kali TB setahun
-                      Umur 13 tahun            : 3 kali TB lahir
-                      Dewasa                       : 3,5 kali TB lahir ( 2 kali TB 2 tahun )

3.                                          Lingkar Kepala ( LIKA )
Ukuran rata – rata Lingkar Kepala :
§  Waktu lahir                       : 34 cm
§  Umur 6 bulan                    : 44 cm
§  Umur 1 tahun                    : 47 cm
§  Umur 2 tahun                    : 49 cm
§  Dewasa                             : 54 cm

4.                                          Lingkar Lengan Atas ( LILA )
Lila dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi / tumbuh kembang, laju tumbuhnya lambat yaitu :
§  Baru lahir                          : 11 cm
§  Umur 1 tahun                    : 16 cm
§  1 – 3 tahun tidak banyak perubahan.

5.                                          Gigi
§  Gigi pertam tumbuh pada umur 5 – 6 bulan
§  Pada umur 1 tahun sebagian besar anak mempunyai 6 – 8 gigi susu, tahun kedua tumbuh lagi 8 biji sehinnga jumlahnya 14 – 16 gigi dan pada umur 2½ tahun sudah terdapat 20 gigi susu
§  Waktu erupsi gigi tetap adalah :
-   Molar pertama   : 6 – 7 bulan
-   Insisor               : 7 – 9 bulan
-   Premolar            : 9 -11 bulan
-   Kanius               : 19 – 12 bulan
-   Molar kedua      : 12 – 16 tahun
-   Molar ketiga      : 17 – 25 tahun





























GANGGUAN MOTORIK KASAR

            Motorik kasar adalah gerakkan tubuh yang menggunakan sebagian besar otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh dipengaruhi kematangan anak itu sendiri.

Motorik kasar merupakan area terbesar perkembangan di usia balita. Diawali dengan kemampuan berjalan, lantas lari, lompat dan lempar. Nah,modal dasar untuk perkembangan ini ada 3 ( yang berkaitan dengan sensori utama), yaitu keseimbangan, rasa sendi (Propioceptif)  dan raba (taktil). Untuk melatihnya yang jelas lakukan sedini mungkin saat semua perkembangan  sensorinya terpenuhi. Berkaitan dengan ini, orang tua harus bijak melihat kesiapan anak. Misal, anak 12 bulan yang sudah bisa berjalan bisa di stimulasi untuk perkembangan berikutnya yaitu lari, lompat, dan lempar. Sebaliknya bila fase berjalan belum dilalui anak dengan baik, tentu tahapan perkembangan berikutnyapun belum bisa diajarkan. Lantaran itulah, penting untuk kita mengetahui tahap-tahap perkembangan usia anak. Cara ini juga memungkinkan kita mendeteksi gangguan yang siapa tahu dialami si kecil.

Stimulasi dilakukan sambil bermain, misalnya mengajak anak berlari berkeliling meja makan sambil berpura-pura manjadi kucing yang dikejar anjing kecil. Begitu pula ketika mau mandi, ajak anak berlari maupun lompat-lompat kearah kamar mandi. Kemidian minta dia membuka kancing bajunya, dan menaruh baju kotornya dengan melemparnya kearah keranjang cucian. Kegiatan-kegiatan itu saja sudah menstimulasi beberapa motorik kasar si kecil.

TAHAPAN PERKEMBANGAN MOTORIK MENURUT UMUR
1.      Umur 0 – 3 bulan
-          Mengangkat kepala setinggi 90 °
-                                                          Kepala terangkat
-                                                          Telungkup kepala terangkat sebentar
-                                                          Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
-                                                          Terlentang, gerakan seimbang
2.      Umur 4 – 7 bulan
-          Duduk tanpa ditopang
-          Bangkit duduk kepala tegak
-          Membalikkan badan
-          Dada terangkat bertumpu pada lengan
-          Berdiri bertumpu beban pada kaki
3.      Umur 8 -11 bulan
-                                                          Berdiri 2 detik
-                                                          Bangun duduk sendiri
-                                                          Bangkit sendiri untuk berdiri
-                                                          Berdiri dengan pegangan
4.      Umur 12 – 15 bulan
-                                                          Berjalan dengan baik
-                                                          Membungkuk dan berdiri kembali
-                                                          Berdiri sendiri
5.      Umur 16 – 19 bulan
-                                                          Menaiki tangga
-                                                          Berjalan Berlari
-                                                          mundur
6.      Umur 20 – 24 bulan
-                                                          Melempar bola diatas bahu
-                                                          Melompat
-                                                          Menendang bola kedepan

7.      Umur 2 tahun – 3 tahun
-                                                          Berdiri pada 1 kaki 2 detik
-                                                          Berdiri 1 kaki 1 detik
-                                                          Melompat dengan 1 kaki

8.      Umur 4 tahun – 5 tahun
-          Berdiri pada 1 kaki
-          Berjalan lurus dengan tumit didepan
-          Berdiri pada 1 kaki 5 detik

9.      Umur 6 tahun
-          Semua kemampuan motorik kasar dibawah umur 6 tahun dapat dilakukan.

                        Aktivitas motorik
Umur rata-rata
Kisaran umur
Tengkurap , mengangkat leher
1 bulan
0 - 3 bulan
Mampu mengangkat kepala
2 bulan
1 - 4 bulan
Berguling dari telentang ke telungkup
4 bulan
3 - 6 bulan
Kembali telentang setelah telungkup
5 bulan
4 - 7 bulan
Duduk dibantu (didudukkan)
5 bulan
4 - 7 bulan
Duduk sendiri
6 bulan
5 - 9 bulan
Merangkak pada perut
7 bulan
5 - 10 bulan
Merangkak dengan tangan dan kaki
8 bulan
6 - 11 bulan
Mampu berdiri dengan bantuan (diberdirikan)
9 bulan
6 - 12 bulan
Titah (berjalan dengan dipandu)
11 bulan
9 - 14 bulan
Berjalan (sendiri)
12 bulan
9 - 17 bulan
Lari
15 bulan
13 - 20 bulan
Melompat (pada dua kaki)
24 bulan
17 - 34 bulan
Menendang bola
24 bulan
18 - 30 bulan
Naik tangga
30 bulan
28 - 36 bulan
Naik sepeda roda tiga
36 bulan
30 - 48 bulan

A.    PENGERTIAN
Gangguan motorik kasar adalah suatu kelainan gerakan yang tidak progresif oleh karena adanya suatu kerusakan atau gangguan pada sel motorik pada susunan saraf pusat yang telah timbul, tumbuh atau masa pertumbuhannya belum selesai.
B.     ETIOLOGI
Gangguan motorik kasar dapat disebabkan oleh beberapa hal yang terjadi selama masa kehamilan, penyebab tersebut dapat dibagi menjadi 3 yaitu :
1.      Masa prenatal
§  Infeksi intra uterin
§  Radiasi
§  Asfiksia intra uterin ( ablasio plasenta, plasenta previa, anoxia maternal, kelainan umbilicus ibu dan hypertensi )
2.      Masa natal
§  Anoksia
§  Hypoksia
§  Perdarahan otak
§  Prematuritas
§  Hyperbilirubinemia
§  Gamelli
3.      Post natal
§  Trauma kepala
§  Meningitis
§  Encephalitis
§  Luka perut pada kepala

C.    GEJALA KLINIS
1.      Masa Neonatus
§  Masa depresi/asimetris dan reflek primitive
§  Reaksi yang berlebihan dari stimulus
§  Kejang
§  Gejala neurologik local
2.      Masa umur < 2 tahun
§  Keterlambatan perkembangan motorik seperti duduk, berdiri atau jalan
§  Terdapat gerakan non volunteer
§  Terdapat paraksis spastic
§  Terdapat reflek primitive
§  Keterlambatan timbulnya reflek-reflek yang lebih tinggi seperti reflek pada umur > 10 tahun
3.      Anak yang lebih besar
§  Disfungsi dari tangan
§  Gangguan cara berjalan
§  Retardasi mental, gangguan bicara, mendengar, melihat.
§  Kejang-kejang

D.    KLASIFIKASI
1.      TIPE SPASTIK
a. Umur 3 Bulan Pertama
o   Pada usia neonatal (perhatikan gerakan bayi yang spesifik terhadap gerakan yang terbatas, sedangkan yang spesifik keadaan plegia tanpa anggota, bahwa dalam keadaan ekstensi lengan terletak kaku didekat badan, pada anak hemiplegia satu tangannya tersebut tidak dekat dengan tangannya  dengan gerakan asmetris.
o   Amati bentuk kepala, ekspresi, perhatikan tanda-tanda disekelilingnya, ukur lika, bila hasil pengukurannya kecil ada hubunganya dengan retardasi mental dan bila hasilnya besar : hidrocehalus.
o   Anak diangkat pada posisi tengkurap dengan memegang bagian lengan, tampak adanya bagian ekstensi pada kedua kaki bersilangan.
o   Angkat anak pada posisi terlentang maka kepala anak akan tampak terkulai, tangan dan kaki tergantung bebas dan adanya fleksi pada siku/lutut, kemudian tubuh anak dengan posisi duduk, maka akan tampak leher terkulai.
b. Umur 4-8 bulan
o   Keraktas dan asmetria gerakan anak, berikan anak kubus mainan perhatikan adanya kekakuan saat anak tersebut memegang kubus tersebut.
o   Angkat anak dengan memegang pada setinggi dada dibawah lengan maka kaki akan tampak ekstensi.
E.     PENILAIAN PERKEMBANGAN
1.      Lahir < 3 bulan
Belajar mengangkat kepala, mengikuti objek dengan mata. Melihat kemuka orang yang tersenyum, bereaksi terhadap suara/ bunyi dan benda yang dipegang, mengoceh.
2.      Usia 3-6 bulan
Mengangkat kepala 90o dan mengangkat kepala dengan bantuan topangan tangannya, mulai belajar meraih benda-benda dari mulutnya berusaha memperluas lapang dada, tertawa dengan menyengir.
3.      Usia 6-9 bulan
Dapat duduk tanpa dibantu, tengkurap dan berbalik sendiri, dapat merangkak meraih benda, memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya, mengeluarkan kata-kata tanpa arti.
4.      Usia 9-12 bulan
Dapat berdiri sendiri sendiri, menurunkan sesuatu, belajar mengeluarkan kata-kata,mengerti ajakan sederhana dan larangan, berpartisipasi dalam permainan.
5.      Usia 12-18 bulan
Belajar dan mengeksplorasi, ramah dengan sekelilingnya menyusun 2-3 kata, dapat mengatakan 3-10 kata, memperhatikan rasa cemburu, bersaing.
6.      Usia 18-24 bulan
Naik turun tangga, menyusun 6 kotak, menunjuk mata dan hidung, menyusun 2 kata, belajar makan sendiri, menggambar garis, mulai mengontrol BAB dan BAK, memperhatikan minat kepada anak lain, bermain-main dengan mereka.
7.      Usia 2-3 tahun
Belajar melompat, memanjat, buat lembaran dengan 3 kotak mampu menyusun 3 kalimat dengan menggunakan kata saya, bertanya, mengerti yang ditujukan kepadanya menggambar lingkaran.
8.      Usia 3-4 tahun
Belajar sendiri, belajar berpakaian, menggambar, bicara dengan baik, menyebut namanya, mengenali warna, menyayangi saudara.
9.      Usia 4-5 tahun
Melompat, menari, menggambar orang, dapat menghitung hari dalam seminggu, memprotes bila dilarang.



F.     PEMERIKSAAN
o   Pemeriksaan mata dan pendengaran
o   Pemeriksaan CSP
o   Pemeriksaan antibody scum terhadap Rekdositomega Virus.
o   Toksoplasma, herpes simpleks
o   Foto kepala, CT scan atau MRI
o   EEG, EMG, dan Evoked Rotensial

G.    TERAPI
    1. Terapi dengan obat-obatan diberikan sesuai kebutuhan
    2. Terapi melalui pembedahan ortopedi
    3. Fisiotherapi
    4. Ortotik
    5. Terapi bicara

II. FOCUS ASSESMENT
  1. Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji
A.    Identitas klien
B.     Riwayat penyakit
C.     Riwayat imunisasi
D.    Riwayat kehamilan dan kelahiran
o   Prenatal
o   Natal
o   Post natal
E.     Riwayat tumbuh kembang
    1. Pertumbuhan
ü  Kaji Berat Badan Lahir dan Berat Badan saat kunjungan,
BB normal (1-3 tahun ) : 2 A x B ( R – thn )
BB normal ( 6-12 tahun) : Umur (thn) x 7 – 9 : 2
ü  Kaji Panjang Badan Lahir dan Panjang Badan saat kunjungan
TB : 64 x 77 R : usia dalam tahun
ü  Lila dan lika saat lahir dan saat kunjungan
    1. Perkembangan
1.      Motorik halus
2.      Motorik kasar
3.      Bahasa
4.      Perkembangan bermain
5.      Perkembangan psikososial
6.      Fase konseptual
7.      Psikososial
8.      Perkembangan moral
9.      Lingkungan

2.      PEMERIKSAAN FISIK
§  Keadaan umum
§  Keadaan kesadaran
§  Head to toe














IKTERUS

A.    Definisi
1.      Ikterus
Adalah perubahan warna kuning pada kulit, membrane mukosa, sclera dan org lain yang disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin di dalam darah dan ikterus sinonim dengan jaundice.
2.      Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologfis menurut Tarigan (2003) dan Callhon (1996) dalam Schwats (2005)adalah ikterus yang memiliki karakteristik sbb:
·   Timbul pada hari kedua – ketiga
·   Kadar bilirubin indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % per hari pada kurang bulan
·   Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari
·   Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %
·   Ikterus hilang pada 10 hari pertama
·   Tidak mempunyai dasar patologis

3.      Ikterus patologis/ hiperbilirubinemia
Ikterus patologis/ hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik sebagai berikut :
1.      Menurut Surasmi (2003) bila :
·         Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran
·         Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg % atau > setiap 24 jam
·         Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg % pada neonatus < bulan dan 12,5 % pada neonatus cukup bulan
·         Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis)
·         Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
2.      Menurut tarigan (2003), adalah :
Suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg % pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi yang kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg % dan 15 mg %.

4.      Kern ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak. Kern ikterus adalah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg %) dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf spatis yang terjadi secara kronik.
B.     Jenis Bilirubin
Menurut Klous dan Fanaraft (1998) bilirubin dibedakan menjad dua jenis yaitu:
1.      Bilirubin tidak terkonjugasi atau bilirubin indirek atau bilirubin bebas yaitu bilirubin tidak larut dalam air, berikatan dengan albumin untuk transport dan komponen bebas larut dalam lemak serta bersifat toksik untuk otak karena bisa melewati sawar darah otak.
2.      bilirubin terkonjugasi atau bilirubin direk atau bilirubin terikat yaitu bilirubin larut dalam air dan tidak toksik untuk otak.

C.    ETIOLOGI
Etiologi hiperbilirubin antara lain :
1.      Peningkatan produksi
-    Hemolisis, misalnya pada inkompalibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan rhesus dan ABO.
-    Perdarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran
-    Ikatan bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang terdapat pada bayi hipoksia atau asidosis
-    Defisiensi G6PD (Glukosa 6 Phostat Dehidrogenase)
-    Breast milk jaundice yang disebabkan oleh kekurangannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta), diol (steroid)
-    Kurangnya enzim glukoronil transferase, sehingga kadar bilirubin indirek meningkat misalnya pada BBLR
-    Kelainan congenital
2.      Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya sulfadiazine.
3.      Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi, toksoplasmasiss, syphilis.
4.      Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ektra hepatic.
5.      Peningkatan sirkulasi enterohepatik, misalnya pada ileus obstruktif.


D.    PATOFISIOLOGI
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Keadaan yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan ada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syaraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudak melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah, hipoksia, dan hipolikemia.

E.     TANDA DAN GEJALA
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
1.       Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada    neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
2.       Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).
Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.

F.     KOMPLIKASI
Terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. Pada kern ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap, letargi, mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements), kejang tonus otot meninggi, leher kaku, dn akhirnya opistotonus.

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bila tersedia fasilitas, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:
·         Pemeriksaan golongan darah ibu pada saat kehamilan dan bayi pada saat kelahiran
·         Bila ibu mempunyai golongan darah O dianjurkan untuk menyimpan darah tali pusat pada setiap persalinan untuk pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan.
·         Kadar bilirubin serum total diperlukan bila ditemukan ikterus pada 24 jam pertama kelahiran.

H.    PENILAIAN IKTERUS MENURUT KRAMER
Ikterus dimulai dari kepala, leher dan seterusnya. Dan membagi tubuh bayi baru lahir dalam lima bagian bawah sampai tumut, tumit-pergelangan kaki dan bahu pergelanagn tangan dan kaki seta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan.
Cara pemeriksaannya ialah dengan menekan jari telunjuk ditempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung, tulang dada, lutut dan lain-lain. Kemudian penilaian kadar bilirubin dari tiap-tiap nomor disesuaikan dengan angka rata-rata didalam tabel di bawah ini :
Tabel hubungan kadar bilirubin dengan ikterus :
Derajat ikterus
Daerah ikterus
Perkiraan kadar Bilirubin (rata-rata)
Aterm
Prematur
1
Kepala sampai leher
5,4
-
2
Kepala, badan sampai dengan umbilicus
8,9
9,4
3
Kepala, badan, paha, sampai dengan lutut
11,8
11,4
4
Kepala, badan, ekstremitas sampai dengan tangan dan kaki
15,8
13,3
5
Kepala, badan, semua ekstremitas sampai dengan ujung jari







I. Diagnosis Banding Ikterus
Anamnesis
Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang atau diagnosis lain yang sudah diketahui
Kemungkinan diagnosis
  • Timbul saat lahir hari ke-2
  • Riwayat ikterus pada bayi sebelumnya

  • Riwayat penyakit keluarga:
 Ikterus, anemia, pembesaran hati,pengangkatan limfa, defisiensi G6PD
Sangat ikterus
Sangat pucat

Hb<13 g/dl, Ht<39% Bilirubin>8 mg/dl pada hari ke-1 atau kadar Bilirubin>13 mg/dl pada hari ke 2 ikterus/kadar bilirubin cepat
Bila ada fasilitas: Coombs tes positif
Defisiensi G6PD
Inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rh
Ikterus akibat inkompatibilitas  darah
  • Timbul saat lahir sampai
dengan hari ke2 atau lebih
  • Riwayat infeksi maternal
Sangat ikterus
Tanda infeksi/sepsis: malas minum, kurang aktif, tangis lemah, suhu tubuh abnormal
Lekositosis, leukopeni, trombositopenia
ikterus diduga karena infeksi berat/sepsis
  • Timbul pada hari 1
  • Riwayat ibu hamil pengguna obat
  • ikterus hebat timbul pada hari ke2
  • Ensefalopati timbul pada hari ke 3-7
  • Ikterus hebat yang tidak atau terlambat diobati
  • Ikterus menetap setelah usia 2 minggu
  • Timbul hari ke2 atau lebih
  • Bayi berat lahir rendah

Ikterus

Sangat ikterus,kejang, postur abnormal, letragi


Ikterus berlangsung > 2 minggu pada bayi cukup bulan dan > 3 minggu pada bayi kurang bulan

Bayi tampak sehat



Bila ada fasilitas: Hasil tes Coombs positif




Faktor pendukung: Urine gelap, feses pucat, peningkatan bilirubin direks
ikterus akibat obat


Ensefalopati





Ikterus berkepenjangan (Prolonged ikterus)

Ikterus pada bayi premature


J. Penatalaksanaan
Berdasarkan pada penyebabnya maka manajemen bayi dengan hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1.    Menghilangkan anemia
2.    Menghilangkan antibody maternal dan eritrosit teresensitisasi
3.    Meningkatkan badan serum albumin
4.    Menurunkan serum bilirubin
Metode terapi hiperbilirubinemia meliputi : fototerapi, transfuse pangganti, infuse albumin dan therapi obat.
a.      Fototherapi
Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfuse pengganti untuk menurunkan bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorescent light bulbs or bulbs in the blue light spectrum) akan menurunkan bilirubin dalam kulit. Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah fotobilirubin berikatan dengan albumin dan di kirim ke hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh hati. Hasil fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis dapat menyebabkan anemia.
Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek 4-5 mg/dl. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah.
Tabel Terapi
Berikut tabel yang menggambarkan kapan bayi perlu menjalani fototerapi dan penanganan medis lainnya, sesuai The American Academy of Pediaatrics (AAP) tahun 1994.
Bayi lahir cukup bulan (38 – 42 minggu)
Usia bayi (jam)
Pertimbangan terapi sinar
Terapi sinar
Transfuse tukar bila terapi sinar intensif gagal
Transfuse tukar dan terapi sinar intensif

Kadar bilirubin
Indirek serum
Mg/dl

<24




25 -48
>9
>12
>20
>25
49 – 72
>12
>15
>25
>30
>72
>15
>17
>25
>30
Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika:
Usia (jam)
Berat lahir < 1500 g kadar bilirubin
BL 1500 – 2000 g kadar bilirubin
BL >2000 g kadar bilirubin
< 24
> 4
> 4
> 5
25 - 48
> 5
> 7
> 8
49 - 72
> 7
> 8
> 10
> 72
> 8
> 9
> 12
Panduan terapi sinar berdasarkan kadar bilirubin serum
Saat timbul ikterus
Bayi cukup bulan sehat kadar bilirubin, mg/dl: (µmol/l)
Bayi denagn factor resiko (kadar bilirubin, mg/dl:µmol/l)
Hari ke 1
Setiap terlihat ikterus
Setiap terlihat ikterus
Hari ke 2
15 (260)
13 (220)
Hari ke 3
18 (310)
16 (270)
Hari ke 4 dst
20 (340)
17 (290)
b. Transfusi Pengganti
Transfusi pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-faktor :
1.                                                                              Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
2.                                                                              Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
3.                                                                              Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama
4.                                                                              Kadar bilirubin direk labih besar 3,5 mg/dl di minggu pertama
5.                                                                              Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama
6.                                                                              Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl
7.                                                                              Bayi pada resiko terjadi kern ikterus.
Transfusi pengganti digunakan untuk:
1.      Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal
2.      Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan)
3.      Menghilangkan serum ilirubin
4.      Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin
Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfuse darah golongan O segera (kurang dari 2 hari), Rh negative whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B. setiap 4 -8 jam kadar bilirubin harus di cek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
c. Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika.
















ASUHAN TUMBUH KEMBANG PADA BAYI  4 BULAN
DENGAN 7 LANGKAH VARNEY

I. PENGUMPULAN DATA DASAR
Hari/tanggal pengkajian          : Rabu, 9 Juli 2008
Tempat pengkajian                  : Poliklinik Tumbuh Kembang Anak
Jam                                          : 10.30 wita
Medical Record                      : 87-15-71
A. Data Subyektif
1. Identitas Pasien
            Nama               : By  “A”
            Lahir                : 23 Maret 2008 jam 00.23 wita
            Umur               : 4 bulan
            Anak ke           : 1
            Jenis kelamin   : Laki-laki

            Nama ibu         : Ny. “N”
            Umur               : 32 tahun
            Agama             : Islam
            Suku                : Sasak
            Pendidikan      : S1
            Pekerjaan         : PNS
            Alamat                        : Cemare , Mataram

            Nama Ayah     : Tn. “R”
            Umur               : 38 tahun
            Agama             : Islam
            Suku                : Sasak
            Pendidikan      : S1
            Pekerjaan         : PNS
            Alamat                        : Cemare, Mataram
2.      Keluhan Utama/alasan datang :
Ibu mengeluh anaknya yang sudah berumur 4 bulan belum bisa tengkurap dan mengangkat kepalanya.
3.      Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
a.       Riwayat Kehamilannya
o   Usia kehamilan                  : cukup bulan
o   Penyakit/masalah yang diderita selama hamil : tidak ada
o   Riwayat ANC                   : > 4x di Puskesmas
o   Imunisasi TT                     : 2x (lengkap)
b.      Riwayat Persalinan
o   Cara persalinan                  : Sectio Secarea
o   Penolong Persalinan          : Dokter
o   Tempat Persalinan             : RSU Mataram
o   Jenis Kelamin                    : laki-laki
o   BBL/PB                            : 2700 gram/49 cm
o   Kelainan/masalah dalam persalinan : bayi langsung menangis pada saat lahir namun opname di ruang NICU karena minum air ketuban.
c.       Postnatal
o   Pemberian ASI segera setelah lahir           : tidak, dan mulai diberikan ASI pada hari kedua setelah lahir.
o   Tanda-tanda bahaya/masalah yang dialami bayi pasca persalinan : tidak ada
o   Penyakit yang pernah diderita                  : pada hari ke-18 setelah lahir, bayi dirawat di ruang NICU karena kuning
4.      Riwayat Psikososial
a.       Kontak dini           : ibu dan ayah tidak langsung melakukan kontak dini setelah bayi lahir karena langsung dibawa ke ruang NICU.
b.      Kontak mata         : ya
c.       Menyentuh            : ya
b.      Pemberian ASI setelah lahir          : tidak langsung diberikan ASI setelah lahir, namun mulai diberikan pada hari kedua setelah lahir sampai sekarang.
d.      Riwayat pemberian imunisasi       : bayi sudah di imunisasi sesuai dengan umurnya, yaitu : BCG, Polio 4, dan DPT+ HB 3
e.       Pemberian nutrisi
o   Pemberian ASI dimulai sejak hari kedua setelah lahir sampai sekarang
o   Frekuensi pemberian                                       : + 8 – 10 kali per hari
o   Diberikan susu formula                                   : Tidak
o   Makanan pendamping ASI                             : Tidak ada
o   Jenis makanan yang dikonsumsi sekarang      : ASI
f.       Pola eliminasi
o   BAK
Frekuensi         : > 4 kali sehari
Konsistensi      : cair
Warna              : normal
Masalah           : tidak ada
o   BAB
Frekuensi         : + 1 kali sehari
Konsistensi      : lembek
Warna              : normal
Masalah           : tidak ada
g.      Pola istirahat
Siang   : + 3 jam ( dari jam 14.00 – 17.00 wita )
Malam : 8 - 10 jam ( dari jam 21.00 – 05.00 wita )
i.    Pola perkembangan dalam keluarga          : Ada keterlambatan yaitu pada motorik kasar.
Belum bisa mengangkat kepala
Belum bisa miring dan tengkurap tanpa bantuan
h.      Kondisi lingkungan tempat tinggal
Keadaan rumah                             : Bersih, tidak ada kandang ternak disekitar rumahnya.
Jumlah anggota keluarga                     : 3 orang
Jumlah bayi dalam satu rumah            : 1 orang
k.   Dukungan / respon keluarga atas kehadiran anak             : orang tua bahagia dengan kehadiran anaknya, dan sangat menyayangiya meskipun ada keterlambatan perkembangan pada anaknya.

5.      Riwayat penyakit yang pernah diderita bayi
Ibu mengatakan bayinya pernah opname/dirawat di ruang NICU karena kuning.

B.   Data Obyektif
1.      Keadaan umum bayi   : baik
2.      BB / PB                       : 5,65 kg / 63 cm 
3.      LIKA                          : 42 cm
4.      LILA                           : 12 cm
5.      Tanda-tanda vital
Suhu                            : 36,8 ° C
Laju jantung                : 120 x/menit
Pernapasan                  : 30 x/enit
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Kepala       : Bersih, distribusi rambut merata, warna rambut tidak merang, tidak ada luka, kepala belum bisa tegak.
b.      Telinga      :  Bersih, tidak ada luka, daya pegas daun telinga kembali cepat, tes pendengaran kurang baik (lama merespon terhadap rangsangan suara)
c.       Mata          :  Simetris, tidak ada tanda-tanda infeksi, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak iketerus, mata tidak cekung.
d.      Hidung dan mulut : Bersih, tidak ada lelehan saliva berlebih, tidak ada sumbatan pada hidung pada waktu bernapas.
e.       Leher         : Tidak ada massa atau benjolan, pergerakan lambat, leher masih lemas.
f.       Dada         :  Puting susu simetris, bunyi nafas normal, bunyi jantung normal.
g.      Perut tidak ada massa atau benjolan.
h.      Punggung dan anus           : tidak ada massa pada punggung, tidak ada cekungan pada tulang belakang, anus (+)
i.        Ekstremitas atas dan bawah          :  Simetris, gerakan aktif, jumlah jari normal
j.        Genitalia    : Jenis kelamin laki-laki, lubang uretra berada diujung penis.
k.      Kulit tidak ada kemerahan, tidak ada luka, tidak ada tanda lahir, tidak ada pembengkakan.
7.      Pemeriksaan pertumbuhan
§  BB             : 5. 650 gram
§  PB             : 63 cm
§  Lika           : 42 cm
§  Lila            : 12 cm
Berat badan normal adalah 6,5 kg  ( umur 4 bulan )
Panjang badan normal adalah 63 cm
Lika normal adalah 42 cm
Lila normal adalah 12 cm

8.      Pemeriksaan perkembangan (Format Denver II terlampir)
Hasilnya          : Terdapat keterlambatan pada motorik kasar
-          Belum bisa mengangkat kepala
-          Belum bisa miring dan tengkurap tanpa bantuan
Seharusnya anak sudah bisa :       
Kepala terangkat 90 derajat
Kepala terangkat
Telungkup kepala terangkat sebentar
Terlentang, gerakan seimbang

II. INTERPRETASI DATA DASAR
A.    Diagnosa
Bayi umur 4 bulan dengan gangguan motorik kasar.
Dasar :
b.      Keadaan umum bayi baik
c.       Tanda vital normal, S : 36,8° C, N : 120 x/menit, R : 30 x/menit
d.      Pemeriksaan Denver terdapat keterlambatan pada sektor motorik kasar.
Hasilnya    : Terdapat keterlambatan pada motorik kasar
-          Belum bisa mengangkat kepala
-          Belum bisa miring dan tengkurap tanpa bantuan
      Seharusnya anak sudah bisa :       
Kepala terangkat 90 derajat
Kepala terangkat
Telungkup kepala terangkat sebentar
Terlentang, gerakan seimbang
e.       Pada pemeriksaan test pendengaran terdapat keterlambatan dalam merespon rangsangan suara.
B.     Masalah
Gangguan perkembangan motorik kasar.
Dasar :
o   Tidak bisa mengangkat kepala.
o   Tidak bisa miring dan tengkurap tanpa bantuan.
C.    Kebutuhan
Fisioterapi.

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
       Keterlambatan perkembangan motorik kasar

IV. KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
      Tidak ada

V. RENCANA ASUHAN SECARA MENYELURUH
c.       Beritahu orang tua bayi tentang hasil pemeriksaan tumbuh kembang bayinya
d.      Konseling mengenai keadaan anaknya dan terapi rutin untum membantu kenormalan perkembanan anak usia 4 bulan.
e.       Berikan terapi seperti: latihan gerak pasif, latihan miring kanan dan miring kiri, dan latihan stabilisasi leher.
f.       Anjurkan ibu untuk mengulang kembali dirumah terapi yang telah diberikan di RSU sesering mungkin.
g.      Motivasi ibu dalam pemberian ASI terhadap bayinya.
h.      Anjurkan ibu untuk terapi ulang minggu depan pada tanggal 16 Juli 2008. 

VI. PELAKSANAAN ASUHAN
  1. Memberi tahu kepada ortu bayi bahwa hasil pemeriksaan fisik normal, S: 36,8° C, N : 120 x/menit, R : 30 x/menit, keadaan umum bayi baik, namun pada pemeriksaan tumbuh kembang bayinya terdapat ketitidaksesuaian perkembangan dengan umur bayinya saat ini.
  2. Memberi konseling pada ibu bahwa bayinya mengalami keterlambatan dalam motorik kasar seperti bayinya tidak bisa mangangkat kepala, tidak bisa miring dan tengkurap tanpa bantuan sehingga perlu diberikan terapi secara rutin untuk membantu kenormalan perkembangan bayinya.
  3. Memberikan terapi gerak pasif , latihan miring kiri dan kanan, dan stabilisasi leher.
  4. Menganjurkan ibu untuk mengulang kembali dirumah terapi yang telah diberikan oleh terapist.
  5. Memotivasi ibu agar tetap memberikan ASI kepada bayinya, sesering mungkin dan diberikan tanpa jadwal.
  6. Menganjurkan ibu untuk terapi ulang minggu depan pada tanggal 16 juli 2008.

VII. EVALUASI
Tanggal 9  Juli 2008 Pukul 11.00 wita.
  1. Orang tua mengetahui hasil pemeriksaan bayinya.
  2. Orang tua mengerti tentang konseling yang disampaikan dan menyetujui tentang terapi yang diberikan pada bayinya
  3. Orang tua mengerti cara melatih anaknya dirumah seperti yang telah diberikan oleh terapist.
  4. Orang tua mengerti tentang informasi yang telah disampaikan.
  5. Ibu akan datang untuk terapi ulang anaknya minggu depan pada tanggal 16 Juli 2008.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar