Kamis, 21 Juli 2011

Hipertensi pada kehamilan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Teori
a. Pengertian hipertensi
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri melebihi normal dan kenaikan ini bertahan.
Pada keadaan istirahat batas normal teratas tekanan darah adalah 140/90 mmHg.
Hipertensi dalam kehamilan mencakupi hipertensi karena kehamilan dan hipertensi kronik (meningkatnya tekanan darah sebelum usi kehamilan 20 minggu).
Nyeri kepala, kejang dan hilangnya kesadaran seringberhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan. Keadaan lain yang dapat mengakibatkan kejang ialah epilepsy, malaria, trauma kepala, meningitis, ensefalitis, dan lain-lain.
• Tekanan darah diastolic merupakan indicator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam kehamilan.
• Tekanan diastolic mengukur tekanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh keadaan emosi pasien
• Jika tekanan diastolik ≥ 90 mmHg pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih, diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan urgen, tekanan diastolic 110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosis, dengan jarak waktu pengukuran < 4 jam. • Jika hipertensi pada kehamilan > 20 minggu, pada persalinan, atau dalam 48 jam setelah persalinan, diagnosisnya adalah hipertensi dalam kehamilan
• Jika hipertensi pada kehamilan < 20 minggu, diagnosisnya adalah hipertensi kronik. Pencegahan hipertensi dalam kehamilan : • Istirahat • Pembatasan kalori, cairan, dan garam tidak dapat mencegah hipertensi dalam kehamilan, bahkan dapat berbahaya bagi janin. • Manfaat aspirin, kalsium, dan obat-obatan pencegah hipertensi dalam kehamilan belum terbukti. • Deteksi dini dan penanganan ibu hamil dengan factor-faktor resiko sangat penting pada penanganan hipertensi dalam kehamilan dan pencegahan kejang follow up teratur dan nasihat yang jelas bilamana pasien harus kembali. Suami dan anggota keluarga lainnya harus diberi penjelasan tentang tanda-tanda hipertensi dalam kehamilan dan perlunya dukungan social/moral kepada pasien. Penanganan Hipertensi dalam kehamilan : 1. Beri Nifedipin 1 tablet 2. Tiap 15 menit tensi ulang 3. Bila tekanan darah masih tinggi bisa diulang sampai 4 kali pemberian tiap 15 menit 4. Bila tekanan darah masih tinggi lapor dokter (kolaborasi dengan dokter) b. Preeklampsia Sampai saat ini, etiologi pasti dari preeklampsi/eklampsi belum diketahui. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain: 1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan5 Pada PE - E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan Fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel. 2. Peran Faktor Imuunologis5 Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Fierlie F.M. (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE - E: a. Beberapa wanita dengan PE - E mempunyai kompleks imun dalam serum. b. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada PE - E diikuti dengan proteinuri. Stirat (1986) menyimpulkan, meskipun ada beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistem imun humeral dan aktivasi komplemen terjadi pada PE - E, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem imunologi bisa menyebabkan PE - E. 3. Peran Faktor Genetik/familial 4,5 Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE - E antara lain: a. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia. b. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE - E. c. Kecenderungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE - E dan bukan pada ipar mereka. d. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS). Kumpulan gejala penyakit yang terdiri dari trias HPE (Hipertensi, Proteinnuria, dan edema) yang sering juga di beri nama Toksemia Gravidarum, dan dalam keadaan yang berat trias di tambah dengan gejala Kejang/ koma sehingga keadaannya bias menjadi lebih gawat lagi.Penyebab komplikasi kehamilan ini belum di ketahui dengan jelas sehingga di sebut sebagai penyakit teoritis dan salah satu factor yang dapat meningkatkan kejadiannya adalah kehamilan pertama kali (Primigravida), kejadiannya akan dapat meningkat kembali pada penyakit ibu yang menyertai kehamilan (penyakit ginjal, Tekanan darah tinggi dll. Preeklampsia dibedakan menjadi 2 yaitu: 1. Preeklampsia Ringan Batasan Timbulnya hipertensi yang disertai proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu. Gejala Klinis 1. Hipertensi Tekanan darah sama dengan atau lebih dari 140/90 mmHg dan kurang dari 160/110 mmHg. Kenaikan tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 30 mmHg. Kenaikan tekanan darah diastolic lebih atau sama dengan 15 mmHg. 2. Proteinuria 0,3 gr/L dalam 24 jam atau secara kualitatif sampai (++). Penatalaksanaan 1. Rawat jalan (pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu) a. Banyak istirahat (berbaring/ tidur miring) b. Diet biasa c. Dilakukan pemeriksaan feotal assessment (USG dan NST) setiap 2 minggu. d. Pemeriksaan Laboratorium : Darah lengkap, homosistein, urine lengka, fungsi ginjal, gula darah acak. e. Kunjungan ulang setiap 1 minggu f. Jika terdapat peningkatan proteinuria dirawat sebagai pre eklampsia berat. 2. Rawat tinggal a. Kriteria untuk rawat tinggal - Hasil feotal assessment meragukan atau jelek dilakukan terminasi. - Kecendrungan menuju gejala preeklampsia berat (timbul salah satu atau lebih gejala preeklampsia berat) - Bila dalam 2 x kunjunga tidaka da perbaikan (2 minggu) b. Evaluasi/ pengobatan selama rawat tinggal. - tirah baring total - Pemeriksaan laboratorium : • Darah lengkap • Homosistein • Fungsi hati/ ginjal • Urine lengkap - Dilakukan fetal assessment (USG dan NST0 - Dilakukan pemeriksaan indeks getosis. 3. Evaluasi hasil pengobatan Pada dasarnya evaluasi pengobatan dilakukan berdasarkan hasil dari fetal assessment. Bila didaptkan hasil: a. Jelek, dilakukan terminasi kehamilan. b. Ragu-ragu, dilakukan evaluasi ulang NST kesejahteraan janin, 1 hari kemudian c. Baik : - penderita dirawat sekurang-kurangnya 4 hari - bila preterm pendertita dipulangkan - bila aterm dengan PS baik lebih dari 5 dilakukan terminasi dengan oksitosin drip d. bila didapatkan keluhan subjektif seperti dibawah ini dirawat sebagai pre eklampsi berat - nyeri ulu hati - mata berkunang-kunang - irritable - sakit kepala e. bila umur kehamilan aterm lebih dari 37 minggu (langsung dilakukan terminasi kehamilan). Penanganan preeklampsia ringan jika kehamilan <37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan: • Pantau tekanan darah, proteinuria, refleks da kondisi janin. • Lebih banyak istirahat • Diet biasa • Tidak perlu di beri obat-obatan • Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit : - Diet biasa - Pantau TD 2 kali sehari, proteinuria 1 x sehari - Tidak perlu obat-obatan - Tidak perlu diuretic, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut - Jika tekanan diastolic turun sampai normal pasien dapat dipulangkan (Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat, kontrol 2 kali seminggu, jika tekanan diastolic naik lagirawat kembali) - Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetapkan dirawat - Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan - Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsi berat. Jika kehamilan >37 minggu, pertimbangkan terminasi
• Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dextrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
• Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter voly atau terminasi dengan Seksio Caesaria.

2. Pre Eklampsi Berat
Pre-eklampsia dapat berlanjut ke keadaan yang lebih berat, yaitu eklampsia.
Eklampsia adalah keadaan pre-eklampsia yang disertai kejang.
Gejala klinik pre-eklampsia dapat bervariasi sebagai akibat patologi kebocoran kapiler dan vasospasme yang mungkin tidak disertai dengan tekanan darah yang terlalu tinggi.
Misalnya, dapat dijumpai ascites, peningkatan enzim hati, koagulasi intravaskular, sindroma HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, low platelets), pertumbuhan janin terhambat, dan sebagainya.
Bila dalam asuhan antenatal diperoleh tekanan darah diastolik lebih dari 85 mmHg, perlu dipikirkan kemungkinan adanya pre-eklampsia membakat. Apalagi bila ibu hamil merupakan kelompok risiko terhadap pre-eklampsia.Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pada kecurigaan pre-eklampsia sebaiknya diperiksa juga :
1. pemeriksaan darah rutin serta kimia darah : ureum-kreatinin, SGOT, LD, bilirubin.
2. pemeriksaan urine : protein, reduksi, bilirubin, sedimen
3. kemungkinan adanya pertumbuhan janin terhambat, konfirmasi USG bila ada.
4. nilai kesejahteraan janin (kardiotokografi).

Batasan :
Suatu komplikasi kehamilan yang ditandaio dengan timbulnya hipertensi lebih atau sama dengan 160/110 mmHg diserta proteiurinaria pada kehamilan 20 minggu atau lebih

Gejala klinis:
Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan dengan satu atau lebih gejala dibawah ini :
1. tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 160 mmHg dan diastolic lebih atau sama dengan 110 mmHg. Tekanan darah ini tidak turun walaupun ibu hamil sudah dirawat dan menjalani tirah baring
2. Proteinuria lebih dari 5 gram atau kualitatif +4 (++++)
3. Oliguria, jumlah produksi urine kurang dari 500 cc dalam 24 jam yang disertai dengan kadar kretinin darah
4. adanya keluhan subjektif
- ( gangguan visus); mata berkunang-kunangn
- gangguan serebral (pusing)
- Nyeri epigastrium kuadran kanan atas abdomen
- Hiper refleks
- Adanya sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzyme, low Platelet count)
- Sianosis.

Diagnosis
1. Umur kehamilan 20 minggu atau lebih.
2. Didapatkan satu atau lebih gejala-gejala preeklampsia berat

Diagnosis banding
1. Hypertensi Keronik dalam kehamilan
2. 2. Kehamilan dengan sindrom nefrotik
3. Kehamilan dengan payah jantung.

Penatalaksanaan
Perawatan konservatif
1. Bila umur kehamilan kurang dari 37 minggu tanpa danya keluhan subyektif dengan keadaan janin baik.
2. Pengobatan dilakukan kamar bersalin (selama 24 jam)
• Tirah baring
• Infus ringer laktat yang mengandung 5% dextrose, 60-125 cc/jam.
• Pemberian MgSO4
- Dosis awal MgSO4 40%,10 i.m, dilanjutkan dengan MgSO4 40%, 5 gr i.m. tiap 6 jam s/d 24 jam.
- Dosis pemeliharaan:MgSo4 40%, 5 gr tiap 6 jam sampai 24 jam
- Ingat harus selalu tersedia Ca Glukonas 10 % sebagai antidotum
- Diberikan antihipertensi.
- Dilakukan pemeriksaan laboratorium tertentu (fungsi hati dan ginjal) dan jumlah produksi urine 24 jam
2.2. Konsep Manajemen Kebidanan dan Pendokumentasian SOAP
Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut dengan manajemen klebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan, yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi tiap-tiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
Proses manajemen kebidanan merupakan langkah sistematis yang merupakan pola pikir bidan dalam melaksanakan asuhan kepada klien yang diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan nasional, maka seluruh aktivitas/ tindakan yang diberikan oleh bidan kepada klien akan efektif serta terhindar dari tindakan yang bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien. Untuk kejelasan langkah-langkah diatas maka dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang penjelasan secara detail dan setiap step yang dirumuskan oleh Varney.

Tahap Pengumpulan Data Dasar (Langkah I)
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interperatsi yang benar atau yang tidak pada tahap selanjutnya, dalam pendekatan ini harus komperhensif meliputi data subjektif, ojektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya.(Suryani Soepardan, 2007)
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
1. Anamnesis. Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayar menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosio-spiritual, serta pengetahuan klien
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi:
a. Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
b. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya) .(Suryani Soepardan, 2007)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada formulir pengumpulan data kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
Dalam manjemen kolaborasi, bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien. .(Suryani Soepardan, 2007)

Interpretasi Data Dasar (Langkah II)
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atas data- data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga kita dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.
Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian, Masalah juga sering menyertai diagnosis.
Diagnosis kebidanan merupakan diagnosis yang ditgakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standard nomenklatur diagnosis kebidanan. .(Suryani Soepardan, 2007)
Terdapat 10 diagnosa kehamilan, yaitu :
1. Hamil/tidak
2. Primi/multi
3. Usia kehamilan
4. Tunggal/ganda
5. Hidup/mati
6. Intra/ekstra uteri
7. Letak janin/presentasi janin
8. K/U ibu dan janin
9. Kesan panggul
10. Penyerta/penyulit

Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya (Langkah III)
Pada langkah ini bidan melakukan identifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa / masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan melakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosa / masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan kebidanan yang aman.
Pada langkah ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi.Lamgkah ini bersifat antisipasi yang rasional/ logis
contoh :
seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pembesaran perut yang berlebihan tersebut misalnya polihidramnion, besar pada kehamilan, ibu dengan diabetes kehamilan atau kehamilan kembar.
Kemudian bidan harus melakukan perencanaan untuk mengantisipasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum tiba-tiba yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
Persiapan yang sederhana adalah dengan anamnese dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboraturium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika terjadi infeksi saluran kencing. (Suryani Soepardan, 2007)

Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan Tenaga Kesehatan Lain (Langkah IV)
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter untuk melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah ke empat mencerminkan kesinambungan dari proses menejemen kebidanan. Jadi menejemen kebidanan bukan hanya selama asuhan primer perodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus misal pada masa persalinan. Pada langkah ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam menejemen asuhan klien.
Dalam melakukan tindakan harus segera sesuai dengan prioritas masalah / kebutuhan yang dihadapi klien. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial pada langkah sebelumnya bidan juga harus mampu merumuskan tindakan segera yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang dilakukan secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat rujukan. (Suryani Soepardan, 2007)

Menyusun Rencana Asuhan (Langkah V)
Pada langkah kelima direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan berdasarkan langkah- langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan menejemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus bersifat rasional dan valid (up to date), dan sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien. (Suryani Soepardan, 2007)

Pelaksanaan langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)
Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan bahwa langkah tersebut benar- benar terlaksana).
Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaannya yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta biaya. (Suryani Soepardan, 2007)



Evaluasi (Langkah VII)
Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.
Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan, apakah benar- benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif dalam pelaksanaanya.
De,ikianlah langkah-langkah alur berpikir dalam penatalaksanaan klien kebidanan. Alur ini merupakan sutu proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain, namun berfungsi memudahkan proses pembelajaran. (Suryani Soepardan, 2007).

Pendokumentasian SOAP
Manajemen kebidanan merupakan suatu metode atau bentuk pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Asuhan yang telah dilakukan harus dicatat secar benar, jelas, singkat, logis dalam suatu metode pendokumentasian.
Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan pada seorang klien, yang dialamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi seorang klien sesuai langkah - langkah dalam proses manajemen kebidanan.
Menurut Helen Varney, alur berpikir saat menghadapi klien meliputi 7 langkah. Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :



S = Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnese sebagai langkah I Varney.

O = Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.

A = Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data subyaktif dan obyektif dalam suatu identifikasi :
Diagnosa/masalah.
Antisipasi diagnosa/masalah potensial.
Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney.

P = Plan
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan (1) dan Evaluasi perencanaan (E) berdasarkan assesment sebagai langkah 5, 6, dan 7 Varney.

Bebarapa alasan penggunaan SOAP dalam pendokumentasian :
Pembuatan grafik metode SOAP merupakan perkembangan informasi yang sistematis yang mengorganisi penemuan dan konklusi anda menjadi suatu rencana.
Metode ini merupakan intisari dari proses penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan mengadakan pendokumentasian asuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar