Kamis, 21 Juli 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat pada suatu wilayah tertentu adalah Angka Kematian Ibu  melahirkan dan Angka Kematian Bayi. Sebagaimana diketahui  bahwa pengertian  AKI adalah jumlah kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu 1 tahun. Makin besar angka ini  menunjukkan bahwa makin besar  masalah kesehatan disuatu wilayah tertentu. ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).

            Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan bahwa secara nasional AKI di Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup. Hasil survey tersebut tidak memberi informasi tentang AKI untuk setiap Propinsi yang ada di Indonesia. Selain itu SDKI tersebut juga menyajikan bahwa AKB untuk Indonesia adalah 34/1000 kelahiran hidup, dan untuk Propinsi NTB adalah 72/1000 kelahiran hidup lebih rendah dari hasil SDKI 2002 yaitu 74/1000 kelahiran hidup. Disebutkan juga Angka Kematian Neonatal untuk Indonesia adalah 20/1000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Neonatal di NTB adalah 34/1000 Kelahiran Hidup.
Kematian Neonatal berhubungan dengan kondisi ibu saat hamil dan melahirkan.
       ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).

 Di Propinsi NTB telah dilakukan berbagai upaya untuk mempercepat penurunan angka kematian Ibu dan Bayi, namun hingga saat ini Angka Kematian Ibu dan Bayi masih merupakan masalah. Salah satu penyebab masalah tersebut adalah masalah yang dikenal dengan istilah tiga terlambat (terlambat membuat keputusan untuk merujuk ibu hamil, terlambat dalam penyediaan alat transportasi dan terlambat memperoleh pertolongan medis yang tepat) dan empat terlalu (terlalu muda, terlalu sering, terlalu dekat jaraknya, terlalu tua hamil). ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).     

Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA dikembangkan dalam rangka menanggapi berikut ini:
  1. Tingginya persentase kematian maternal yang terjadi dalam waktu 2 jam, saat dan setelah persalinan.
  2. Sebagian besar kematian maternal berhubungan dengan “tiga terlambat “– terlambat membuat keputusan untuk merujuk ibu hamil, terlambat dalam penyediaan alat transportasi dan terlambat memperoleh pertolongan medis yang tepat.
  3. Tingginya persentase kematian maternal karena perdarahan.
    Kehamilan dan persalinan masih dianggap sebagai hal alamiah yang terjadi pada setiap perempuan.
  4. Kehamilan adalah urusan perempuan saja. ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).
      Padahal, 85 % kematian maternal bisa dihindari karena:
  1. Tiga terlambat merupakan masalah yang terkait dengan masalah tehnis dan perilaku sosial budaya masyarakat.
  2. Masih banyak mitos dan tabu yang terkait dengan kehamilan dan persalinan yang perlu diluruskan.
  3. Kehamilan dan persalinan seharusnya bukan hanya urusan perempuan tetapi juga merupakan urusan keluarga dan menjadi perhatian umum masyarakat/publik. (Depkes RI). ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).
             Gambaran keadaan masyarakat Indonesia dimasa depan atau visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan tersebut adalah Indonesia Sehat 2010  dan misi Making Pergnancy Saver (MPS)  adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan sehat.
       Prinsip pokok MPS adalah :
1.         Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terampil
2.         Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal ditangani secara adekuat
3.         Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan dan penanggulangan kehamilan yang tidak diinginkan dan komplikasi abortus tidak aman. ( Http//.KIA DIKES NTB.mht).

Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup, Departemen Kesehatan (Depkes).

Dari uraian diatas dianggap perlu tenaga kesehatan (bidan) untuk tetap meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui pendidikan formal yaitu jenjang pendidkan Diploma III (D III) maupun pendidikan informal melalui berbagai jenis seminar-seminar  dan atau pelatihan-pelatihan. Dengan tingkat pendidikan tersebut diharapkan bidan mampu memberikan pelayanan yang logis serta sesuai standar yang pada akhirnya dapat menurunkan AKI dan AKB.

1.2. Tujuan
1.2.1.     Tujuan Umum
      Sesuai dengan latar belakang di atas maka penyusunan laporan ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas menurut 7 langkah Varney dengan pendokumentasian menggunakan SOAP.
1.2.2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk melakukan pengkajian data dasar (data obyektif dan subyektif)
b.      Untuk menginterpretasi data dasar dan identifikasi diagnosis masalah
c.       Untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
d.      Untuk mengidentifikasi kebutuhan segera
e.       Untuk melakukan rencana asuhan menyeluruh
f.       Untuk melakukan pelaksanaan asuhan menyeluruh atau implementasi.
g.      Untuk melakukan evaluasi.
1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi ibu hamil, dapat mengetahui keadaannya atau perkembangan kehamilan apakah normal atau tidak.
1.3.2. Bagi bidan atau petugas kesehatan, dapat mendeteksi adanya komplikasi pada persalinan dan dapat mengantisispasi komplikasi tersebut.
1.3.3. Bagi Mahasiswa, dapat melakukan pengkajian kesehatan ibu hamil patologis dengan menggunakan SOAP dan apa saja yang terjadi pada ibu hamil sehingga dapat memberikan konseling dan asuhan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Konsep Dasar Teori
a.      Pengertian
1.      Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. (Wiknjosastro, 2005)
2.      Kehamilan normal adalah dimana ibu sehat tidak ada riwayat obstetrik buruk dan ukuran uterus sama/sesuai usia kehamilan, pemeriksaan fisik dan laboratorium normal (Saifuddin. AB, 2002)
3.      Kehamilan adalah masa di mulai dari ovulasi dimana lamanya hamil normal adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu disebut sebagai kehamilan matur (cukup bulan), dan bila lebih dari 43 minggu disebut sebagai kehamilan post matur (Wiknjosastro, 2007)

b.      Etiologi
Untuk setiap kehamilan harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi hasil konsepsi. Tiap spermatozoa terdiri dari tiga bagian yaitu : kaput/kepala yang berbentuk lonjong agak gepeng dan mengandung bahan nucleus, ekor, dan bagian yang silindrik menghubungkan kepala dengan ekor, dan getaran ekor spermatozoa dapat bergerak cepat. (Wiknjosastro,2002)

c.       Fisiologi
1.      Konsepsi
Tiap bulan seorang wanita melepaskan 1 sampai 2 sel telur dari indung telur yang ditangkap oleh  fimbriae  kemudian masuk kedalam saluran telur.
Pada saat persetubuhan, semen ditumpahkan kedalam vagina dan berjuta-juta (3cc) sel sperma masuk kedalam rongga rahim menuju saluran telur (tiap cc sperma mengandung 40-60 juta sel sperma). Pembuahan terjadi pada  ampula tuba palloppi.
Sekitar 100 sperma berhasil mencapai telur, namun hanya 1 sperma yang dapat membuahi sel telur. Terdapat berbagai rintangan yang menghambat jalan sperma, lapisan keras yang melindungi ovum sangat sukar untuk ditembus, namun sperma dilengkapi sistem khusus untuk membantunya memasuki sel telur yaitu di bawah lapisan pelindung pada kepala sperma terdapat kantung-kantung kecil yang berisi enzim-enzim pelarut yaitu enzim-enzim akrosom.
Sperma melepas enzim-enzim akrosom untuk menembus zona pellusida yaitu sebuah perisai glikoprotein disekeliling sel telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom.
Segera setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel menyatu. Karena selaput plasma yang membungkus kepala akrosom telah hilang pada saat reaksi akrosom. Reaksi akrosom yaitu reaksi yang terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan induksi oleh protein-protein zona. Penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertinggal di permukaan oosit. Sementara spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya lepas dan berdegenerasi. Sperma melepaskan ekornya dan memasuki sel telur dan melepaskan  kromosom melalui lubang yang ia buka.
Sesudah itu pronukleus pria dan wanita saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus pria maupun wanita (haploid), masing-masing pronukleus harus menggandakan DNA-nya.
Sesudah pembelahan maka ovum menjadi 22 Kromosom otosom serta 1 kromosom X, spermatozoon mempunyai 1 kromosom X atau 1 Kromosom Y. Zigot hasil pembuahan memiliki 44 kromosom otosom serta 2 kromosom X tumbuh menjadi janin wanita sementara yang memiliki 44 kromosom  serta 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh menjadi janin laki-laki.

2.      Stadium Morulla
Setelah pembuahan terjadi mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Setelah zigot mencapai tingkat dua sel, ia menjalani pembelahan mitosis, mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel yang menjadi semakin kecil ini disebut blastomer dan sampai tingkat delapan sel, sel-selnya membentuk sebuah gumpalan longgar. Segera setelah pembelahan ini terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok sel-sel yang sama besarnya. Sel-sel embrio yang termampatkan kemudian membelah lagi, kemudian hasil konsepsi berada pada stadium morula dengan 16 sel. Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan sel-sel sebelah dalam, yang akan tumbuh menjadi jaringan embrio sampai janin) dan outer cell mass ( lapisan sebelah luar yang akan membentuk trofoblas yang akan tumbuh menjadi plasenta).







                                    


Gambar Perkembangan embrio

                          Pada stadium morula energi untuk pembelahan ini diperoleh dari vitellus, hingga volume vitellus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. Dengan demikian, zona pellusida tetap utuh, dengan perkataan lain, besarnya hasil konsepsi tetap sama. Dalam ukuran yang sama ini hasil konsepsi disalurkan melalui bagian tuba yang sempit dan terus kearah kavum uteri. Kira-kira pada waktu morula memasuki rongga rahim, cairan mulai menmbus zona pellusida masuk kedalam ruang antar sel yang ada di massa sel dalam. Berangsur-angsur ruang antar sel menyatu, dan akhirnya terbentuklah sebuah rongga, blastokel. Pada saat ini mudigah disebut blastokista. Sel-sel didalam massa sel dalam, yang sekarang disebut embrioblas, terletak pada salah satu kutub, sedangkan sel-sel di massa sel luar atau trofoblas, menipis dan membentuk dinding epitel blastokista. Zona pellusida sekarang menghilang, sehingga implantasi dapat dimulai.  Dengan demikian, menjelang akhir minggu pertama perkembangan, zigot manusia telah melewati tingkat morula dan blastokista dan sudah mulai berimplantasi di selaput lendir rahim.
Setelah mengalami stadium morula hasil konsepsi disalurkan terus ke arah kavum uteri dan mulai mengalami stadium blastula.
3.      Stadium Blastulla
Dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai tingkat stadium Blastula.Kemudian blastula tersebut berimplantasi dalam endometrium, dengan bagian dimana bagian inner cell mass berlokasi. Hal inilah yang menyebabkan tali pusat berpangkal sentral atau para sentral. Bila nidasi terjadi mulailah diferensiasi sel-sel blastula. Sel-sel yang lebih kecil, yang dekat dengan ruang eksoselom, membentuk entoderm dan yolk sac, sedangkan sel-sel yang lebih besar menjadi ektoderm dan membentuk ruang amnion. Saat nidasi kadang-kadang terjadi perdarahan desidua yang disebut sebagai tanda hartman. Jika nidasi ini terjadi barulah disebut sebagai kehamilan.
Setelah minggu pertama (hari 7-8), sel-sel trofoblas yang terletak di atas embrioblas yang berimplantasi di endometrium dinding uterus, mengadakan proliferasi dan berdiferensiasi menjadi dua lapis yang berbeda :
a.      Sitotrofoblas    : terdiri dari selapis sel kuboid, batas jelas, inti tunggal, di sebelah dalam (dekat embrioblas).
b.      Sinsitiotrofoblas : terdiri dari selapis sel tanpa batas jelas, di sebelah luar (berhubungan dengan stroma endometrium). Unit trofoblas ini akan berkembang menjadi plasenta.






Gambaran yang memperlihatkan blastokista manusia berusia 7 hari, sebagian terbenam didalam stroma endometrium. Rongga amnion tampak sebagai sebuah celah sempit. ( Rustam Mochtar, 2002).
 










Gambar 2.6. Blastokista Manusia Berusia 7 Hari

4.      Stadium Gastrulla
Gastrulasi yaitu proses yang membentuk ketiga lapisan germinal pada embrio (ektoderm, mesoderm dan endoderm) dan terjadi pada minggu ketiga. Setelah nidasi akan terjadi diferensiasi sel – sel blastula. Sel – sel yang lebih kecil dekat eksosellom membentuk endoderm dan yolk salk sedangkan sel – sel yang lebih besar terjadi ektoderm dan membentuk ruang amnion dan antara yolk salk dan ruang amnion terdapat embrionale plate.
Sel-sel trofoblast mesodermal tumbuh sekitar embrio dan melapisi sebagian dalam trofoblast. Terbentuk korionik membrane yang kelak menjadi korionik. Trofoblast menghasilkan hormone human chorionok gonadotropik yang mempengaruyhi korpus luteum untuk tumbuh terus dan menghasilkan progesterone sampai sampai plasenta cukup membuat progesterone sendiri. Hormon ini dapat ditemukan dalam air kencing wanita hamil.
Pertumbuhan embrio terjadi dalam embrional plate yang selanjutnya terdiri atas tiga lapisan yaitu sel ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Sementara ruang amnion dan embrio menjadi padat dinamakan body stalk
Tali pusat sendiri berasal dari body stalk, terdapat pembuluh darah sehingga ada yang dinamakan vascular stalk. Dari perkembangan ruang amnion dapat dilihat bahwa bagian luar tali pusat berasal dari lapisan amnion. Didalamnya terdapat jaringan lembek, selei Wharton, yang melindungi 2 arteri umbilikus dan 1 vena umbikalis yang berada di tali pusat.
Plasenta terbentuk lengkap pada umur kehamilan  ± 16 minggu. Plasenta umumnya ditemukan 15 – 20 buah maternal kotiledon. Fetal kotiledon adalah suatu kelompok besar vili korealis yang bercabang – cabang seperti pohon. Pada plasenta aterm diperkirakan terdapat 200 fetal kotiledon. Di dalam ruang yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion dan korion terdapat likuor amnii pada saat hamil cukup bulan 1000 – 1500 ml, warna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis. Air ketuban berasal dari kencing janin (fetal urin), transudasi dari darah ibu, sekresi dari epitel amnion, asal campuran (mixed origin). (Wiknjosastro, 2005)










 














Gambar Pembentukan Plasenta

5.      Masa Embrionik (organogenesis)
Merupakan masa terbentuk jaringan dan sistem organ dari masing-masing lapisan mudigah. Sebagai akibat pembentukan organ, ciri – ciri utama bentuk tubuh mulai jelas. ( Rustam Mochtar, 2002)
Pada kehamilan 8-10 minggu pembuluh darah janin mulai terbentuk.
Plasenta mengelilingi embrio dalam rahim ibu. Plasenta berfungsi sebagai ginjal, paru-paru dan liver buatan ia memiliki fungsi ini pada saat yang bersamaan. Tugas lain plasenta ialah melindungi embrio.
Sel-sel bagian luar dari plasenta membentuk semacam saringan yang terletak antara pembuluh darah ibu dan embrio yang berfungsi mencegah bahaya dari luar. Saringan ini meloloskan sel-sel makanan dan menahan sel-sel imunitas.
Dalam tali plasenta terdapat satu pembuluh darah vena dan dua pembuluh darah arteri. Pembuluh darah vena membawa makanan dan oksigen ke embrio dan pembuluh darah arteri mengeluarkan karbon dioksida dan sisa-sisa sampah dari tubuh sang bayi.
Mesoderm connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi tali pusat. Pada tahap awal perkembangan, rongga perut masih terlalu kecil untuk usus yang berkembang, sehingga sebagian usus terdesak ke dalam rongga selom ekstraembrional pada tali pusat.
Kandung kuning telur (yolk-sac) dan tangkai kandung kuning telur (ductus vitellinus) yang terletak dalam rongga korion, yang juga tercakup dalam connecting stalk, juga tertutup bersamaan dengan proses semakin bersatunya amnion dengan korion.
Setelah struktur lengkung usus, kandung kuning telur dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal (2 arteri umbilikalis dan 1 vena umbilikalis) yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Pembuluh darah umbilikal ini diliputi oleh mukopolisakarida yang disebut Wharton’s jelly.
Pada minggu-minggu pertama perkembangan, villi / jonjot meliputi seluruh lingkaran permukaan korion. Dengan berlanjutnya kehamilan :
1.      Jonjot pada kutub embrional membentuk struktur korion lebat seperti semak-semak (chorion frondosum sementara.
2.      jonjot pada kutub abembrional mengalami degenerasi, menjadi tipis dan halus disebut korion leave.
Seluruh jaringan endometrium yang telah mengalami reaksi desidua, juga mencerminkan perbedaan pada kutub embrional dan abembrional :
1.      Desidua di atas korion frondosum menjadi desidua basalis.
2.      Desidua yang meliputi embrioblas / kantong janin di atas korion laeve menjadi  desidua kapsularis.
3.      Desidua di sisi / bagian uterus yang abembrional menjadi desidua parietalis.
Antara membran korion dengan membran amnion terdapat rongga korion. Dengan berlanjutnya kehamilan, rongga ini tertutup akibat persatuan membran amnion dan membran korion. Selaput janin selanjutnya disebut sebagai membran korion-amnion Kavum uteri juga terisi oleh konsepsi sehingga tertutup oleh persatuan chorion laeve dengan desidua parietalis.
Rongga yang diliputi selaput janin disebut sebagai Rongga Amnion.
Di dalam ruangan ini terdapat cairan amnion (likuor amnii).
Asal cairan amnion : diperkirakan terutama disekresi oleh dinding selaput amnion / plasenta, kemudian setelah sistem urinarius janin terbentuk, urine janin yang diproduksi juga dikeluarkan ke dalam rongga amnion.
Umumnya denyut jantung janin dapat direkam pada minggu ke 12. Pada minggu ke 16 sistem musculoskeletal sudah matang dan  mulai minggu ke 28 janin bisa bernafas. Minggu ke 32 janin mulai dapat menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor, dimana pada minggu ke 38 badan janin akan mengisi selurung rongga uterus.  (Winkjosastro, 2005 hal.56 )








Table 2.1. Umur kehamilan, panjang fetus dan pembentukannya
Umur
Kehamilan
Panjang fetus
Pembentukan organ
4 minggu
7,5-10 mm
Rudimental mata, telinga dan hidung
8 minggu

2,5 cm

Hidung, kuping, jari-jemari mulai di bentuk. Kepala menekuk ke dada.
12 minggu



9 cm



Daun telinga lebih jelas, kelopak mata melekat, leher mulai terbentuk, alat kandungan luar terbentuk namun belum berdiferensiasi.
16 minggu


16-18 cm


Genitalia eksterna terbentuk dan dapat di kenal, kulit tipis dan warna merah.
20 minggu


25 cm


Kulit lebih tebal, rambut mulai tumbuh di kepala dan rambut halus (lanugo) tumbuh di kulit.
24 minggu
30-32 cm
Kedua kelopak mata tumbuh alis dan bulu mata serta kulit keriput. Kepala besar. Bila lahir, dapat bernapas tapi hanya beberapa jam saja.
28 minggu
35 cm
Kulit warna merah di tutupi verniks kaseosa. Bila lahir, dapat bernapas, menangis pelan dan lemah.
32 minggu
40-43 cm
Kulit merah dan keriput. Bila lahir, kelihatan seperti orang tua dan kecil.
36 minggu
46 cm
Muka berseri tidak keriput. Bayi premature.
40 minggu
50-55 cm
Bayi cukup bulan. Kulit licin, verniks kaseosa banyak, rambut kepala tumbuh baik, organ-organ baik.
(Rustam Mochtar, 2002)

Gambar 2.2. Perkembangan janin
Gambar
Keterangan

JANIN PADA BULAN KE-3
Pada akhir bulan ketiga, panjang tubuh janin mencapai kira-kira 3 inci (7,62 cm) dan berat badan kira-kira 1ons. Lengan, hasta dan jari-jarinya, serta kedua kaki dan jemarinya sudah ada, sedangkan kuku mulai terbentuk. Demikian pula bagian luar telinga sudah ada pada fase ini. Pangkal gigi pun mulai terbentuk pada tulang rahang yang kecil, dan organ-organ sex yang bagian dalam sudah mulai tumbuh.

 
JANIN PADA BULAN KE-4
Pada fase ini, detak jantung janin sudah dapat terdengar dengan menggunakan alat khusus (dopller). Kepala yang bersambung dengan bagian tubuh lainnya menjadi bertambah besar pada bulan keempat, dan panjang janin akan segera bertambah.
Pada akhir bulan keempat, panjang tubuh janin akan mencapai kira-kira 7 inci dan berat badannya mencapai 4 ons. Ia sudah memiliki rambut, alis dan bulu mata, serta mulai mengisap ibu jari tangannya.

JANIN PADA BULAN KE-5
Sepanjang bulan kelima, berat badan janin berkisar pada 1/2 hingga 1 pon (0,24 hingga 0,45 kg) dan panjang tubuhnya antara 10 hingga 12 inci (25,4 hingga 30,5 cm). Otot-ototnya sudah mulai berfungsi, sehingga ia senantiasa bergerak. Biasanya pada bulan kelima ini gerakan janin jelas dapat dirasakan oleh ibunya.

JANIN PADA NULAN KE-6
Panjang tubuh janin berkisar antara 11 hingga 14 inci (27 hingga 35,5 cm) dan berat badannya antara 1,5 hingga 2 pon (0,67 hingga 0,9). Kulitnya mengerut dan berwarna kemerahan, serta dilapisi sejenis pelindung yang disebut Vernix Caseosa.

JANIN PADA BULAN KE-7
Selama bulan ini janian terus tumbuh dan bergerak.Apabila pada bulan ini janin lahir maka masih dapat hidup, akaN tetapi harus dibantu dengan alat-alat pembantu dan dampak lain dari kelairan janin pada bulan ini adalah keadaanya masih lemah dan bayi BBLR (Berat badan bayi lahir rendah), sehingga harus di hangatkan kedalam incubator agar suhu badan bayi bias mencapai suhu yang normal.

JANIN PADA BULAN KE-8
Pada bulan ini janian sudah menjadi lebih panjang dan lebih gemuk keadaannya. Panjang tubuhnya mencapai 18 inci (45,7 sampai 5 pon atau 2,27 kg). Apabila janin lahir pada fase ini, peluang untuk hidup lebih besar, karena pertumbuhanya relative sempurna.

JANIN PADA BULAN KE-9
Janin akan terus tumbuh dan pada akhir bulan ini berat badan janin umumnya berkisar antara 7 hingga 7,5 pon (3,18 hingga 3,40 kg) dan panjang tubuhnya sekitar 20 inci (50 cm). Kulitnya masih dilapisi cairan pelindung (liquor Amnion). Posisi janin berubah sebagai persiapan untuk lahir dan mulai turun kebawah dengan kepala berada pada bagian bawah dan janin sudah siap dilahirkan.
(Anderson,2004
d.      Tanda dan Gejala
1.      Tanda Tidak Pasti Kehamilan
Subyektif
a.      Amenorhoe
Berhentinya menstruasi pada seorang wanita yang sebelumnya telah mengalami menstruasi sangat mendukung tenda kehamilan. Oleh karena itu wanita harus mengetahui hari pertama haid yang terakhir (HPHT) untuk dapat menentukan umur kehamilan dan tanggal tafsiran persalinan (HTP). Apabila HPHT dapat dipastikan maka dengan menggunakan rumus Neegle, HTP juga dapat ditentikan. Cara menghitung dengan rumus Neegle adalah sbb, tanggal HPHT ditambahkan dengan 7 dan bulannya dikurang 3.
Walaupun amenorhoe merupakan tanda penting untuk mendiagnosa suatu kehamilan, tetapi kehamilan dapat juga terjadi tanpa didahului dengan menstruasi, seperti pada :
-          Seorang gadis yang menikah dini atau melakukan hubungan seksual sebelum menarche.Kemungkinan konsepsi/fertilisasi terjadi waktu ovulasi pertama kali.
-          Ibu menyusui yang biasanya tidak menstruasi dalam masa laktasi.
-          Kadang-kadadng terjadi pada wanita yang merasa yakin telah menopause.

Amenorhoe dapat juga terjadi pada wanita yang tidak hamil, hal ini dapat disebabkan oleh :
-          Anovulasi (akibat dan adanya gangguan emosi, perubahan lingkungan dan penyakit kronis).
-          Pemakaian alat kontrasepsi hormonal.



b.      Mual dengan atau tanpa muntah
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan menghilang pada akhir triwulan pertama. Oleh karena sering terjadi pada pagi hari disebut dengan “morning sickness” atau sakit pagi.
Mual (emesis) dan muntah (vomiting) yang normal pada kehamilan biasanya tidak menimbulkan gangguan pada metabolisme tubuh. Bila mual dan muntah berlebihan, terlalu sering sehingga mengakibatkan gangguan pada metabolisme tubuh, hal ini disebut sebagai hiperemesis.
c.       Sering kencing
Biasanya terjadi pada triwulan pertama yang disebabkan oleh penekanan kandung kencing oleh pembesaran uterus. Gejala ini akan berkurang sampai hilang pada triwulan kedua dan muncul kembali pada akhir kehamilan yang disebabkan penekanan kendung kencing oleh penurunan bagian terendah janin (kepala atau bokong).
d.      Konstipasi atau obstipasi
Ini disebabkan karena menurunnya tonus otot khusus oleh pengaruh hormone steroid.
(Winkjosastro,2007)

Objektif
a.       Sinkope/pingsan
Terjadi oleh karena peningkatan jumlah volume darah pencairan darah yang disebut sebagai hidremia.
b.      Payudara tegang
Mamma akan membesar dan tegang akibat hormone somatomammotropin, estrogen, dan progesteron.
Estrogen menimbulkan hipertrofi system saluran sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada mamma. Somatomammotropin juga mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan-perubahan dalam sel-sel, sehingga terjadi pembuatan kasein, laktalbumin, dan laktoglobulin, dimana tujuannya adalah untuk mempersiapkan mamma untuk laktasi.
c.       Pigmentasi kulit
Terjadi penumpukan melanin pada kulit dibagian tubuh tertentu terutama dibagian pipi dan dahi yang disebut dengan cloasma gravidarum.
Garis middle abdomen juga mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap yang disebut dengan linea nigra.
d.      Epulis
Sering terjadi pada triwulan pertama yang disertai pembengkakan dan perdarahan gusi. Pada keadaan wanita hamil yang kekurangan vitamin C juga dapat terjadi perdarahan pada gusi.
e.       Varices
Sebagai pengaruh hormone, pelebaran pembulun darah juga sering terjadi.
f.       Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan
Setelah 12 minggu kehamilan, uterus biasanya dapat diraba melalui dinding abdomen, tepat diatas symfisis sebagai sebuah tumor/massa. Kemudian uterus akan bertambah besar seiring dengan tuanya umur kehamilan. Pada dasarnya pembesaran ini disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus, disamping itu serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Bila ada kehamilan ektopik, uterus tetap membesar karena pengaruh hormone tersebut begitu pula dengan endometrium yang menjadi desidua.
g.      Perubahan pada organ pelvic.
Terjadinya peningkatan suplay darah ke organ pelvic,, dan pengaruh hormone-hormon steroid reproduksi menyebabkan  adanya perubahan pada organ pelvic, seperti :
a)      Tanda Chadwick
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pangaruh estrogen sehingga nampak makin merah dan kebiru-biruan.
b)      Tanda Pisscasek
Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama kesemua arah, terjadi pertumbuhan yang cepat didaerah implantasi plasenta, sehingga rahim bentuknya tidak sama.
c)      Kontraksi Braxton-Hicks
Perimbangan hormone estrogen dan progesteron mengakibatkan perubahan konsentrasi sehingga progesteron mengalami penurunan dan menimbulkan kontraksi rahim. Kontraksi Braxton Hicks tidak dirasakan sakit dan terjadi bersamaan diseluruh rahim, kontraksi ini akan berkelanjutan menjadi kontraksi untuk persalinan.
d)      Tanda Goodels
Seviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat,hanya 10% jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak.
e)      Tanda Hegar
Pada minggu-minggu pertama kehamilan, ishmus uteri mengadakan hiopertrofi seperti pada korpus uteri. Hipertrofi ishmus pada triwulan pertama membuat ishmus menjadi panjang dan lunak.
f)        Teraba Ballottement
Jika uterus diketuk, maka akan terjadi pantulan pada tempat impalntasinya.
(Winkjosastro,2007)
h.      Pemeriksaan Tes biologis kehamilan positif
Pada kehamilan ditemukan peningkatan kadar Hcg dalam urine. Sebagian kemungkinan postif palsu.

2.      Tanda pasti kehamilan
Tanda pasti kehamilan dapat ditentukan dengan jalan :
a.       Kerja jantung janin
Dengan alat fetal electro cardiograph denyut jantung janin dapat dicatat pada kehamilan 12 minggu. Dengan memakai alat dengan system Doppler dapat pula dicatat denyut jantung janin. Serta dapat pula mengetahui denyut jantung janin dengan menggunakan stetoskop Laennec pada usia kehamilan 18 – 20 minggu dan dapat didengar bising usus dari uterus yang sinkron dengan nadi ibu karena pembuluh-pembuluh darah uterus yang membesar.
b.      Persepsi gerakan janin
Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu, oleh karena sudah berpengalaman pada kehamilan terdahulu. Gerakan janin kadang-kadang pada kehamilan 20 minggu dapat diraba secara objektif oleh pemeriksa. Ballotement dalam uterus dapat diraba pada kehamilan lebih tua .Dalam triwulan terakhir gerakan janin lebih gesit.
c.       Deteksi kehamilan dengan sinar Rontgen tampak kerangka
janin.
d.      Fetoskopi
e.       Deteksi kehamilan secara ultrasonografi (scanning)
Dapat diketahui ukuran kantong janin panjangnya janin (crown-rump), dan diameter biparietalis hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan, dan selanjutnya dapat dipakai untuk menilai pertumbuhan janin. Dapat pula dipakai bila ada kecurigaan dalam kehamilan mola, blighted ovum, kematian janin intra uterin, anensefali, kehamilan ganda, hidramnion, plasenta previa, dan tumor pelvis. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada kehamilan 16-18 minggu yang diperkirakan aman memang menjadi pegangan untuk pasien dan dokternya untuk pengawasan kehamilan lebih yakin dan mantap. (Winkjosastro,2007)
Setelah 6 minggu, denyut jantung sudah terdeteksi. Kantung gestasi mulai dapat dilihat sejak usia kehamilan 4 – 5 minggu sejak menstruasi terakshir. Dan pada minggu ke-8 , usia gestasi dapat diperkirakan secara cukup akurat.(Cunningham, 2005)

e.       Perubahan Fisiologi dan Psikologi dalam Kehamilan
1.      Perubahan fisiologis untuk tiap trimester kehamilan
a.       Trimester 1
1).       Nyeri pada pembesaran payudara
2).       Kelelahan
3).       Sering kencing
4).       Mual muntah
5).       Pertumbuhan janin di atas symfisis pubis dapat dirasakan mulai kehamilan 12 minggu
b.      Trimester II
1).       Uterus terus membesar
2).       Setelah 16 minggu uterus biasanya berada pada pertengahan antara symfisis dan pusat
3).       Berat badan meningkat 4-5 kg
4).       Umur kehamilan 20 minggu, tinggi fundus uteri berada di dekat pusat
5).       Payudara mulai mengeluarkan kolostrum
6).       Gerakan bayi dirasakan
7).       Nampak perubahan kulit, cloasma gravidarum, dan strie gravidarum.
c.      Trimester III
1).       Umur kehamilaan 28 mingg, tinggi fundus uteri terletak kira-kira 3 jari di atas pusat
2).       Umur kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri terletatak diantara setengah jarak pusat dan prosessus xifoideus
3).       Payudara penuh dan nyeri tekan
4).       Sering kencing
5).       Umur kehamilan 38 minggu, bagian terendah janin turun ke rongga panggul
6).       Sakit pinggang dan sering kencing makin meningkat
7).       Susah tidur
8).       Terjadi peningkatam kontraksi Broxton Hicks.

2.    Perubahan psikologi tiap trimester I kehamilan dan  adaptasinya  (Varney, volume I.2002)
a.       Perubahan psikologi trimester 1 ( masa penentuan )
1).       Terjadi fluktuasi lebar asfek emosional sehingga beresiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman, serba salah, perasaan campur aduk ( perasaan jengkel, dan tidak nyaman)
2).       Sebagian besar (80%) ibu merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan, defresi dan kesedihan.
3).       Pada awal kehamilannya, ibu berharap tidak membenci kehamilannya/perasaan embivalen terhadap kenyataan kehamilannya
4).       Ada perasaan cemas karena akan punya tanggung jawab sebagai ibu
5).       Perasaan bahagia / suka cita bagi ibu yang mengharapkan kehamilannya
6).       Menginginkan perhatian yang lebih, kebutuhan kasih sayang yang besar serta cinta kasih tampa seks.
b.    Perubahan psikologi trimester II (priode pancara kesehatan) (varney.2002)adalah :
1).       Fase pra-quickening
a).    Mengembangkan identitas keibuanya
b).    Proses persiapan untuk menjadi seorang ibu
c).    Lebih banyak menganalisa peran ibunya dan menuntut kasih sayng dari ibunya
2).       Fase pasca-quickening
a).    Perubahan kontak social/fokus pada kehamilannya / kesejahteraan bayinya
b).    Meningkatkan kewaspadaan ibu mengenai ancaman terhadap bayinya
c).    Lebih banyak menuntut kasih sayang dari pasangannya
Adaptasi psikologis pada kehamilan trimester II
a).    Karena fluktasi dan emosi mulai mereda, maka ibu mulai memperhatikan kehamilannya
b).    Ketika ibu menyadari perut membesar dan merasakan gerakan janin maka ia gembira menerima dan menganggap bayinya sebagai bagian dari dirinya
c).    Karena bebas dari kenyamanan maka sebagian besar wanita merasa erotis dan umumnya dorongan seksual dapat meningkat
d).   Berusaha mencari perhatian suami dan keinginan yang kuat agar suami ikut ambil dan bertanggung jawab
e).    Berkonsentrasi pada kebutuhan diri dan mempersiapkan perlengkapan bayinya
f).     Menunjukkan perasaan yang cendrung lebih stabil. (Rustam Mochtar, 2002)
c.     Perubahan Psikologi Trimester III ( Periode Menunggu/ Penentian Dan Waspada adalah :
1).    Kecemasan dan ketegangan semakin meningkat karena oleh perubahan postur tubuh atau terjadi gangguan body image
2).    Merasa tidak feminism, jelek, berantakan dan canggungmenyebabkan perasaan takut perhatian suami berpaling atau tidak menyenangi kondisinya
3).    6-8 minggu menjelang persalinan perasaan takut semakin meningkat, merasa cemas terhadap kondisi bayi dan dan dirinya serta proses persaalinanya
4).    Pada pertengahan trimester ketiga dapat muncul perasaan bersalah terhadap hubungan seksual
Adaptasi psikologis kehamilan trimester III
1).    Menjadi lebih protektif terhadap bayinya (menghindari tempat ramai, hal-hal yang berbahaya)
2).    Menyibukkan diri dalam persiapan menghadapi persalinan
3).    Sebagian besar pemikiran di fokuskan pada perawatan bayinya
4).    Memerlukan dukungan yang sangat besar dari pasangannya. (varney.2002)

f.       Penatalaksanaan Pelayanan Antenatal (Saifuddin,AB.2002)

Setiap wanita hamil menghadapi risiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal :

1.      Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu),
2.      Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28),
3.      Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).          
Pelayanan / Asuhan Standar Minimal Termasuk “10T” :
1.      Timbang berat badan.
Timbang berat badan selalu dilakukan di setiap waktu ANC, cara dalam menimbang berat badannya (dalam kg) adalah tanpa sepatu dan memakai pakaian yang seringan-ringannya. Berat badan kurang dari 45 kg pada trimester ketiga menyatakan ibu kurus memiliki kemungkinan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per minggu mulai trimester kedua.
Mengukur tinggi badan dapat dilakukan pada awal ANC saja, cara mengukur tinggi badan (dalam meter) adalah dengan posisi tegak berdiri tanpa menggunakan sepatu dan dilakukan pengukuran. Tinggi badan kurang dari 1,5 meter dapat menjadi alasan untuk direncanakannya proses persalinan dengan cara operasi. Sehingga ibu hamil bersama suaminya dapat menyiapkan biaya operasi sejak dini, serta menumbuhkan kesiapan psikis untuk operasi.
2.      Ukur (tekanan) darah.
Pengukuran tekanan darah/tensi dilakukan secara rutin setiap ANC, diharapkan tenakan darah selama kehamilan tetap dalam keadaan normal (120/80 mmHg). Hal yang harus diwaspadai adalah apabila selama kehamilan terjadi peningkatan tekanan darah (hipertensi) yang tidak terkontrol, karena dikhawatirkan dapat terjadinya preeklamsia atau eklamsia (keracunan dalam masa kehamilan) dan dapat menyebabkan ancaman kematian bagi ibu dan janin/ bayinya. Hal yang juga harus menjadi perhatian adalah tekanan darah rendah (hipotensi), seringkali disertai dengan keluhan pusing dan kurang istirahat.
3.      Ukur (tinggi) fundus uteri.
Secara sederhana, bidan atau dokter saat melaksanakan ANC pada seorang ibu hamil untuk menentukan usia kehamilan dilakukan pemeriksaan abdominal/perut secara seksama. Pemeriksaan dilakukan dengan cara melakukan palpasi (sentuhan tangan secara langsung di perut ibu hamil) dan dilakukan pengukuran secara langsung untuk memperkirakan usia kehamilan, serta bila umur kehamilan bertambah.
Pemeriksaan ini dilakukan pula untuk menentukan posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. Pemantauan ini bertujuan untuk melihat indikator kesejahteraan ibu dan janin selama masa kehamilan.
4.      Pemberian imunisasi TT (tetanus toksoid) lengkap.
Salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi atau neonatus yang disebabkan oleh penyakit tetanus, maka dilakukan kegiatan pemberian imunisasi TT. Manfaat dari imunisasi TT ibu hamil diantaranya:
Melindungi bayi yang baru lahir dari penyakit tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat.
Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka. Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal (pada ibu hamil) dan tetanus neonatorum (bayi berusia kurang dari 1 bulan).
Pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali, dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan (dalam otot atau dibawah kulit). Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap. TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan. Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2   adalah   minimal 4 minggu.
5.      Pemberian tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
Wanita hamil cenderung terkena anemia (kadar Hb darah rendah) pada 3 bulan terakhir masa kehamilannya, karena pada masa itu janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. Anemia pada kehamilan dapat disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil, pola makan ibu terganggu akibat mual selama kehamilan, dan adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe) pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi.
Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak, kematian janin, abortus, cacat bawaan, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), anemia pada bayi yang dilahirkan, lahir prematur, pendarahan, rentan infeksi. Defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab anemia, tetapi apabila prevalensi anemia tinggi, defisiensi besi biasanya dianggap sebagai penyebab yang paling dominan. Pertimbangan itu membuat suplementasi tablet besi folat selama ini dianggap sebagai salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mengatasi masalah anemia. Anemia dapat diatasi dengan meminum tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD). Kepada ibu hamil umumnya diberikan sebanyak satu tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan. TTD mengandung 200 mg ferrosulfat, setara dengan 60 miligram besi elemental dan 0.25 mg asam folat.
6.      Tes terhadap penyakit menular seksual.
Ibu hamil resiko tinggi terhadap PMS, sehingga dapat mengganggu saluran perkemihan dan reproduksi. Upaya diagnosis kehamilan dengan PMS di komunitas adalah melakukan diagnosis pendekatan gejala, memberikan terapi, dan konseling untuk rujukan. Hal ini bertujuan untuk melakukan pemantauan terhadap adanya PMS agar perkembangan janin berlangsung normal.
7.      Temu wicara dalam persiapan rujukan
Memberikan konsultasi atau melakukan kerjasama penanganan tindakan yang harus dilakukan oleh bidan atau dokter dalam temu wicara, antara lain :
a.       Merujuk ke dokter untuk konsultasi, menolong ibu menentukan pilihan yang tepat.
b.      Melampirkan kartu kesehatan ibu beserta surat rujukan
c.       Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa surat hasil rujukan
d.      Meneruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan
e.       Memberikan asuhan Antenatal (selama masa kehamilan)
f.       Perencanaan dini jika tidak aman melahirkan dirumah
g.      Menyepakati diantara pengambil keputusan dalam keluarga tentang rencana proses kelahiran
h.      Persiapan dan biaya persalinan
8.      Nilai status gizi
9.      Tentukan persentasi janin dan denyut jantung janin
10.  Tata laksana kasus
(Depkes RI. 2009)


Cara menentukan taksiran persalinan :
1.      Menentukan tanggal perkiraan partus, dengan rumus Naegele, yaitu hari + 7, bulan – 3, tahun + 1.
a.       Jika HPHT lupa, menggunakan patokan gerakan janin primigravida dirasakan ibu pada kehamilan 18 minggu, multigravida pada kehamilan 16 minggu. Dapat pula sebagai pegangan dipakai perasaan nausea yang biasanya hilang pada kehamilan 12 – 14 minggu. (Rustam Mochtar,2002)
b.      Penentuan umur kehamilan dengan ultrasonografi.

Pemeriksaan Leopold :
Gambar Palpasi Abdomen
Leopold I        :
untuk menentukan tinggi fundus uteri, menentukan usia kehamilan, menentukan bagian janin yang ada pada fundus uteri.
Cara : Petugas menghadap kemuka ibu, uterus dibawa ketengah,  tentukan tinggi fundus uteri dan bagian apa yang terdapat didalam fundus
Hasil : kepala teraba benda bulat dan keras
 Bokong teraba tidak bulat dan lunak
  
Leopold II   :
untuk menetukan bagian yang ada di samping uterus, menentukan letak.
Cara : uterus didorong kesatu sisi sambil meraba bagian janin yang berada disisi tersebut dengan cara yang sama pada sisi uterus yang lain.
Hasil : punggung janin teraba membujur dari atas kebawah pada letak kepala. Pada letak lintang dapat ditemukan kepala.
              
Leopold III  :
menentukan bagian janin yang berada di uterus bagian bawah.
Cara : tangan kanan diletakan diatas simfisis dengan ibu jari disebelah kanan ibu dengan empat jari lainnya disebelah kiri ibu sambil meraba bagian bawah tersebut.
Hasil : teraba kepala/bokong/bagian kecil janin.

Leopold IV :
menetukan seberapa jauh bagian terendah bagian janin masuk ke PAP.
( www.merck.com/.../ MMPE_OBGYN_260_01_eps.gif )

Cara menghitung berat badan janin dalam kandungan :
Menghitung perkiraan berat badan janin (PBBJ) menurut cara Jonson:
a.       Bila bagian terendah janin masuk pintu atas panggul :
      PBBJ = ( TFU –11 ) x 155
b.      Bila bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul :
      PBBJ = ( TFU – 12 ) x 155 (Rustam Mochtar, 2002)

Cara menentukan umur kehamilan :
Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari – jari tangan sesuai dengan usia kehamilan (dengan cara Mc. Donald) :
Posisi uterus diketengahkan, letakkan ujung meteran pada simfisis, kemudian diukur sampai fundus uteri maka akan terlihat hasil dalam cm. TFU dengan cm dihitung mulai umur kehamilan >22 minggu.



Tabel 2.3. Menentukan umur kehamilan dengan Mc.Donald
Umur kehamilan
TFU
Keterangan
8 mgg
Blm teraba
Sebesar telur bebek
12 mgg
3 jari atas simfisis
Sebesar telur angsa
16 mgg
½ pusat – simfisis
Sebesar kepala bayi
20 mgg
3 jari bawah pusat
-
24 mgg
Sepusat
-
28 mgg
3 jr ats pusat
-
32 mgg
½ pusat – Px
-
36 mgg
1 jr di bwh Px
Kepala masih berada di atas pintu panggul.
40 mgg
3 jr bwh Px
Fundus uteri turun kembali, karena kepala janin masuk ke rongga panggul.
( www.merck.com/.../ MMPE_OBGYN_260_01_eps.gif )

Di bawah ini ukuran tinggi fundus uteri dalam cm dikaitkan dengan umur kehamilan dan berat badan bayi sewaktu dilahirkan :
Bila pertumbuhan janin normal maka tinggi undus uteri pada kehamilan pada 28 minggu 25 cm, pada 32 minggu 27 cm dan 36 minggu 30 cm. pada kehamilan 40 minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari bawah Px, hal ini disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk ke dalam rongga panggul.  (Wiknjosastro, 2002)
Cara menghitung denyut jantung janin :
Auskultasi :
Dengan stetoskop Laennec bunyi jantung janin baru dapat didengar pada kehamilan 18 – 20 minggu. Dengan dopler dapat terdengar sejak usia kehamilan 12 minggu.
DJJ = 5’’1 + 5’’3 + 5’’5 = …. x 4 = …. x/menit   (Rustam Mochtar, 2002).
                                                                                                         
Pemeriksaan hemoglobin :
 Pemeriksaan Hb dilakukan 2 kali selama kehamilan, pada trimester pertama dan pada kehamilan 30 minggu, karena pada usia 30 minggu terjadi puncak hemodilusi. Ibu dikatakan anemia ringan Hb < 11 gr%, dan anemia berat < 8 gr%. Dilakukan juga pemeriksaan golongan darah, protein dan kadar glukosa pada urine. Untuk saat ini anemia dalam kehamilan di Indonesia ditetapkan dengan kadar Hb < 11 gr% pada trimester I dan III atau Hb < 10,5 gr% pada trimester. Anjuran program nasional Indonesia adalah pemberian 60 mg/hari elemental besi dan 50 mg asam folat untuk profilaksis anemia. Program Depkes memberikan 90 tablet besi selama 3 bulan. (IBI, 2006)

Pertambahan berat badan selama hamil :
1)         Pertambahan berat total selama kehamilan pada primigravida sehat yang          makan tanpa batasan adalah sekitar 12,5 kg. Dengan distribusi pertambahan         berat badan sebagai berikut :
Tabel 2.4. pertambahan berat badan selama hamil
No.
Keterangan
Berat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Payudara
Fat/ lemak
Plasenta
Fetus
Cairan ketuban (amniotic fluid)
Pembesaran uterus
Penambahan darah
Cairan ekstraseluler
0,5 kg
3,5 kg
0,6 kg
3,4 kg
0,6 kg
0,9 kg
1,5 kg
1,5 kg
Total
12,5 kg
(obstetri williams, 2005)


2)      Kenaikan berat badan wanita hamil rata – rata antara 6,5 kg sampai 16 kg. Bila berat badan naik lebih dari semestinya anjurkan untuk mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat. Lemak jangan dikurangi, terlebih – lebih sayur mayur dan buah-buahan. (Wiknjosastro, 2005)
3)      Normal berat badan meningkat sekitar 6-16 kg, terutama dari pertumbuhan isi konsepsi dan volume berbagai organ / cairan intrauterin.( Matsumoto AM, 2004)
Kebutuhan gizi ibu hamil :
1)      Trimester I (minggu 1-13)
      Kebutuhan gizi masih tetap seperti biasa.
2)      Trimester II (minggu 14-28)
      Ibu memerlukan tambahan kalori ± 285 kal, protein lebih tinggi dari biasa yaitu 1,5 gr/kg BB.
3)      Trimester III (minggu 28-lahir).(Varney 2002)
Kalori sama dengan trimester II tapi protein naik menjadi 2 gr/kg BB.
Imunisasi Tetanus pada ibu hamil :
Memberikan imunisasi TT 0,5 cc, jika sebelumnya telah mendapatkan.
Dengan jadwal sebagai berikut :

Tabel 2.5 Jadwal TT Ibu hamil
Antigen
Interval
(selang waktu minimal)
Lama perlindungan
% perlindungan
TT1
Pada kunjungan antenatal pertama
-
-
TT2
4 minggu setelah TT1
3 tahun*
80
TT3
6 bulan setelah TT2
5 tahun
95
TT4
1 tahun setelah TT3
10 tahun
99
TT5
1 tahun setelah TT4
25 tahun/seumur hidup
99
Keterangan : *artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terilndung dari TN (Tetanus Neonatorum).           ( Wiknjosastro. 2005)

g.      Prosedur Diagnostik
Prosedur Diagnostik dilakukan meliputi :
1)      Anamnesa
a)      Riwayat Kehamilan
b)      Riwayat Kebidanan
c)      Riwayat Kesehatan
d)     Riwayat Sosial
2)      Pemeriksaan Umum (Keseluruhan)
3)      Pemeriksaan Kebidanan (Luar)
a)      Inspeksi
b)      Palpasi
c)      Auscultasi
d)     Perkusi
4)      Pemeriksaan Kebidanan (Dalam)
5)      Pemeriksaan Laboratorium
6)      Pemeriksaan Penunjang.
a)      USG
b)      CTG
(Rustam Mochtar, 2002)

h.      Prognosa dan Komplikasi
1)      Prognosa
Setelah pemeriksaan selesai maka atas dasar pemeriksaan harus dapat dibuat prognosa atau ramalan apakah nanti kehamilannya akan berakhir dengan persalinan normal atau tidak.
Prognosa atau ramalan perlu untuk menentukan apakah nantinya ibu hamil harus bersalin di Rumah Sakit atau boleh melahirkan dirumah.
Berikut ini 18 penapisan dalam merujuk pasien, antara lain :
a.       Riwayat bedah sesar
b.      Perdarahan Pervaginam
c.       Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
d.      Ketuban pecah dengan mekonium kental
e.       Ketuban pecah lama
f.       Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
g.      Ikterus
h.      Anemia berat
i.        Tanda / gejala infeksi
j.        Preeklampsi / Hipertensi dalam kehamilan
k.      Tinggi fundus uteri 40 cm atau lebih
l.        Gawat janin
m.    Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala masih 5/5
n.      Presentasi bukan letak belakang kepala
o.      Presentasi majemuk
p.      Kehamilan gemeli
q.      Tali pusat menumbung
r.        Syok

2)      Komplikasi
Pada kehamilan komplikasi yang sering ditemukan :
a.       Perdarahan nidasi merupaskan hal yang fisiologis bila jumlahnya sedikit, sebentar dan tidak berpengaruh buruk pada kehamilan


b.      Abortus
c.       Kehamilan unembrionik (Blighted Ovum) dimana sejak awal mudigah terbentuk kemudian mati
d.      Molahidatidosa
e.       Kehamilan Ektopik
f.       Hiperemesis gravidarum
g.      Preeklampsia dan Eklampsia
h.      Perdarahan antepartum
i.        Kehamilan kembar
j.        Kelainan dalam lamanya kehamilan
k.      Penyakit serta kelainan plasenta dan selaput janin
(Rustam Mochtar, 2002).

2.2.      Konsep Manajemen Kebidanan dan Pendokumentasian SOAP
               Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut dengan manajemen klebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.
               Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan, yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi tiap-tiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
               Proses manajemen kebidanan merupakan langkah sistematis yang merupakan pola pikir bidan dalam melaksanakan asuhan kepada klien yang diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan nasional, maka seluruh aktivitas/ tindakan yang diberikan oleh bidan kepada klien akan efektif serta terhindar dari tindakan yang bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien. Untuk kejelasan langkah-langkah diatas maka dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang penjelasan secara detail dan setiap step yang dirumuskan oleh Varney.

Tahap Pengumpulan Data Dasar (Langkah I)
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interperatsi yang benar atau yang tidak pada tahap selanjutnya, dalam pendekatan ini harus komperhensif meliputi data subjektif, ojektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya.(Suryani Soepardan, 2007)
Untuk memperoleh data dilakukan dengan  cara :
1.      Anamnesis. Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayar menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosio-spiritual, serta pengetahuan klien
2.      Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi:
a.    Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
b.   Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya) .(Suryani Soepardan, 2007)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada formulir pengumpulan data kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
               Dalam manjemen kolaborasi, bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien. .(Suryani Soepardan, 2007)

Interpretasi Data Dasar (Langkah II)
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atas data- data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga kita dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.
               Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian, Masalah juga sering menyertai diagnosis.
               Diagnosis kebidanan merupakan diagnosis yang ditgakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standard nomenklatur diagnosis kebidanan. .(Suryani Soepardan, 2007)
Terdapat 10 diagnosa kehamilan, yaitu :
1.      Hamil/tidak
2.      Primi/multi
3.      Usia kehamilan
4.      Tunggal/ganda
5.      Hidup/mati
6.      Intra/ekstra uteri
7.      Letak janin/presentasi janin
8.      K/U ibu dan janin
9.      Kesan panggul
10.  Penyerta/penyulit

Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya (Langkah III)
               Pada langkah ini bidan melakukan identifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa  / masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan melakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosa / masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan kebidanan yang aman.
               Pada langkah ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi.Lamgkah ini bersifat antisipasi yang rasional/ logis
contoh :
seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pembesaran perut yang berlebihan tersebut misalnya polihidramnion, besar pada kehamilan, ibu dengan diabetes kehamilan atau kehamilan kembar.
Kemudian bidan harus melakukan perencanaan untuk mengantisipasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum tiba-tiba yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
Persiapan yang sederhana adalah dengan anamnese dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboraturium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika terjadi infeksi saluran kencing. (Suryani Soepardan, 2007)




Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi  Segera dengan Tenaga Kesehatan Lain (Langkah IV)
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter untuk melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah ke empat mencerminkan kesinambungan dari proses menejemen kebidanan. Jadi menejemen kebidanan bukan hanya selama asuhan primer perodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus misal pada masa persalinan. Pada langkah ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam menejemen asuhan klien.
Dalam melakukan tindakan harus segera sesuai dengan prioritas masalah / kebutuhan yang dihadapi klien. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial pada langkah sebelumnya bidan juga harus mampu merumuskan tindakan segera yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang dilakukan secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat rujukan. (Suryani Soepardan, 2007)

Menyusun Rencana Asuhan (Langkah V)
               Pada langkah kelima direncanakan asuhan  yang menyeluruh ditentukan berdasarkan langkah- langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan menejemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus bersifat rasional dan valid (up to date), dan sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien. (Suryani Soepardan, 2007)

Pelaksanaan langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)
Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan bahwa langkah tersebut benar- benar terlaksana).
Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaannya yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta biaya. (Suryani Soepardan, 2007)

Evaluasi (Langkah VII)
Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.
Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan, apakah benar- benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif dalam pelaksanaanya.
De,ikianlah langkah-langkah alur berpikir dalam penatalaksanaan klien kebidanan. Alur ini merupakan sutu proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain, namun berfungsi memudahkan proses pembelajaran. (Suryani Soepardan, 2007).

Pendokumentasian SOAP
Manajemen kebidanan merupakan suatu metode atau bentuk pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Asuhan yang telah dilakukan harus dicatat secar benar, jelas, singkat, logis dalam suatu metode pendokumentasian.
Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan pada seorang klien, yang dialamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi seorang klien sesuai langkah  - langkah dalam proses manajemen kebidanan.
Menurut Helen Varney, alur berpikir saat menghadapi klien meliputi 7 langkah. Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :

S = Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnese sebagai langkah I Varney.

O = Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.

A = Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data subyaktif dan obyektif dalam suatu identifikasi :
Diagnosa/masalah.
Antisipasi diagnosa/masalah potensial.
Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney.



P = Plan
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan (1) dan Evaluasi perencanaan (E) berdasarkan assesment sebagai langkah 5, 6, dan 7 Varney.

Bebarapa alasan penggunaan SOAP dalam pendokumentasian :
Pembuatan grafik metode SOAP merupakan perkembangan informasi yang sistematis yang mengorganisi penemuan dan konklusi anda menjadi suatu rencana.
Metode ini merupakan intisari dari proses penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan mengadakan pendokumentasian asuhan.





















BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY ”I”
DENGAN KEHAMILAN NORMAL TRIMESTER III
DI POSYANDU KERANGKENG
PADA TANGGAL 23 MARET 2011
 


Hari/tanggal   : Rabu, 23 Maret 2011
Pukul              : 09.30 wita
Tempat           : Posyandu Kerangkeng
No RM           : -

A.     Data Subyektif (S)
1.      Identitas

Istri
Suami
Nama
Ny "I"
Tn "M"
Umur
25  tahun
30 tahun
Suku/Bangsa
Sasak/ Indonesia
Sasak/ Indonesia
Agama
Islam
Islam
Pendidikan
SD
SD
Pekerjaan
Tidak bekerja
Buruh
Alamat
Kerangkeng
Kerangkeng

2.      Keluhan  Utama  
Tidak ada

3.      Riwayat Keluhan Utama
Tidak ada

4.      Riwayat Menstruasi 
Menarche                                : 12 tahun
Siklus                                      : 30 hari (teratur)
Lama                                       : 7 hari
Jumlah darah                           : 2 – 3x ganti pembalut/ hari
Dismenorea                             : tidak ada
Fluor Albus                             : tidak ada

5.      Riwayat Perkawinan
Berapa kali menikah                : 1x
Umur pertama kali menikah   
Suami : 25 tahun                                   istri :  29 tahun
Lama                                       : 1 tahun

6.      Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Kehamilan
No
Usia kehami
Lan
Tempat persali
nan
Penolong Persali
nan
Jenis Persali
nan
Riwayat Penyakit
Umur
JK
BBL
(gr)
Ket
Hamil
Persalinan
Nifas
ini


-
-
-
-
-

-

-

-
-
-
-

7.      Riwayat kehamilan
a.       HPHT                               : 25062010
b.      HTP                                  : 01042011
c.       Hamil                               : ke-1
d.      Usia kehamilan                 : 9 bulan
e.       Gerakan janin                   : pertama kali dirasakan ibu pada UK 5                                                            bulan, gerakan janin dirasakan sering, >                                                    10x dalam 12 jam.
f.       Tanda bahaya/ penyulit    : tidak ada
g.      Riwayat ANC                              : 8x di posyandu dan polindes
h.      Imunisasi TT                                : 2 kali (lengkap)
Tanggal TT 1                                : 25 Agustus 2010
Tanggal TT 2                                : 29 September 2010
i.        Kekhawatiran khusus                   : tidak ada
j.        Kepercayaan selama hamil           : tidak ada
k.      Riwayat KB                                 : Belum pernah menggunakan KB
l.        Rencana KB                                 : Suntikan 3 bulan

8.      Riwayat kesehatan/penyakit yang diderita sekarang dan dahulu
a.       Masalah Kardiovaskular              : tidak ada
b.      Hipertensi                                    : tidak ada
c.       Diabetes                                       : tidak ada
d.      Penyakit Kelamin/ HIV / AIDS  : belum pernah melakukan
                                                       pemeriksaan
e.       Hepatitis                                      : belum pernah melakukan
                                                       pemeriksaan                                                                                    
f.       Malaria                                         : tidak ada
g.      Campak                                       : tidak ada
h.      Tuberkolosis                                : tidak ada
i.        Anemia Berat                              : tidak ada
j.        Penyakit Ginjal                            : tidak ada
k.      Gangguan Asma                          : tidak ada
l.        Lainnya                                        : tidak ada







9.      Riwayat Biopsikososial dan Spiritual
a.       Pola Nutrisi
Makanan

Sebelum hamil
Selama hamil
Komposisi
Porsi
Frekuensi
Makanan pantangan
Nasi, ikan, lauk
1 piring
3x sehari
Tidak ada
Nasi, lauk, ikan
1 piring
4x sehari
Tidak ada

Minuman

Sebelum hamil
Selama hamil
Komposisi
Porsi
Frekuensi
Minuman pantangan
Air putih
1 gelas
7 gelas sehari
Tidak ada
Air putih
1 gelas
7 gelas sehari
Tidak ada

b.      Pola eliminasi
BAB

Sebelum hamil
Selama hamil
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Penyulit
1x sehari
Lembek
 Kuning
Tidak ada
1x sehari
Lembek
Kuning
Tidak ada
BAK

Sebelum hamil
Selama hamil
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Penyulit
3-4x sehari
cair
 Kuning jernih
Tidak ada
5-6x sehari
Cair
Kuning jernih
Tidaka ada



c.       Istirahat dan tidur

Sebelum hamil
Selama hamil
Siang
Malam
Kesulitan
2 jam
7 jam
Tidak ada
2 jam
7 jam
Tidak ada

d.      Personal hygiene

Sebelum hamil
Selama hamil
Mandi
Keramas
Gosok gigi
Ganti pakaian
2x sehari
2x seminggu
2x sehari
1x sehari
2x sehari
2x seminggu
2x sehari
2x sehari

e.       Komunikasi
Nonverbal                                    : Lancar
Verbal                                          : Bahasa Indonesia
f.       Keadaan emosional                     : kooperatif
g.      Hubungan dengan keluarga         : Akrab
h.      Hubungan dengan orang lain      : Akrab
i.        Proses berfikir                              : terarah
j.        Ibadah/ spiritual                           : patuh
k.      Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan     : ibu dan keluarga sangat senang dan bahagia dengan kehamilan ini
l.        Dukungan keluarga                                             : suami dan keluarga sangat mendukung  dengan selalu  membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah dan menemani ibu memeriksakan kehamilannya
m.    Setiap hari ibu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu memasak, dan mencuci.
n.      Pengambil keputusan dalam keluarga                : suami dan orang tua
o.      Tempat dan petugas yang diinginkan untuk bersalin : di puskesmas ditolong oleh bidan
B.     Data Obyektif (O)
1.      Pemeriksaan Umum
a.       Keadaan umum                 : baik
b.      Kesadaran                         : compos metis
c.       Emosi                                : stabil
d.      BB sebelum hamil             : 50 kg
e.       BB selama hamil               : 54 kg
f.       Tinggi badan                     : 155 cm
g.      LILA                                 : 25 cm
h.      Tanda-Tanda Vital
-  Tekanan darah               : 110/ 70 mmHg
-  Nadi                               : 88 x/menit
-  Respirasi                        : 24 x/menit
-  Suhu                               : 36 °C

2.      Pemeriksaan  Fisik
a.       Kepala                               : kulit kepala bersih, tidak berketombe, tidak                                                   ada lesi, tidak ada benjolan.
Rambut                             : warna hitam, distribusi merata, tidak rontok
Wajah                                : tidak pucat, tidak oedema, dan tidak ada                                                      cloasma gravidarum
Mata                                  : simetris, konjungtifa tidak pucat, sklera                                                         tidak ikterus
Telinga                              : simetris, tidak ada pengeluaran secret/                                                           cairan, tidak ada serumen
Hidung                              : tidak ada tarikan cuping hidung, tidak ada                                                    pengeluaran secret/ cairan, tidak ada polip
Mulut                                : bibir tidak pucat, tidak pecah- pecah, tidak                                                    ada gigi berlubang, tidak ada karies. Tidak                                                            ada stomatitis, lidah bersih.
b.      Leher                                 : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak                                                    ada bendungan vena jugularis, tidak ada                                                    pembesaran kelenjar tiroid.
c.       Payudara  
Inspeksi                             : simetris, puting susu menonjoltidak dapat                                                      hiperpigmentasi areola, tidak terdapat                                                        hipervaskularisasi, tidak ada                                                                     retraksi/dimpling
Palpasi                               : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak                                                    ada benjolan/nyeri tekan, pengeluaran                                                        colostrum -/-.
d.      Abdomen             
Inspeksi                             : tidak ada bekas luka operasi, terdapat linea                                                         nigra, tidak terdapat striae albican.
Palpasi      
Leopold I                          : TFU= 31 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II                         : PUKI
Leopold III                       : Presentasi kepala
Leopold IV                       : Kepala sudah masuk PAP 4/5 bagian
TBJ                                    : 3100 gram
Auskultasi                         : DJJ (+). Irama teratur 11,12,11, frekuensi                                                      136 x/menit

e.       Genetalia                           : tidak dilakukan karena tidak ada indikasi
f.       Ekstermitas atas                : Kuku tidak pucat, tidak ada oedema
Ekstermitas bawah            : kuku tidak pucat. tidak ada oedema, tidak                                                    ada varises.

3.      Pemeriksaan penunjang      
tidak dilakukan

C.        Asessment (A)
1.      Diagnosa 
G4P3A0H3, UK 39 minggu, T/H/IU, preskep keadaan umum ibu dan janin baik.
Data dasar  :
-       Ibu mengatakan pertama
-       Ibu mengatakan tidak pernah keguguran
-       HPHT : 25 - 06 – 2010
-       HTP   : 01 - 04 - 2011
-       Ibu mengatakan pertama kali dirasakan ibu pada UK 5 bulan, gerakan janin dirasakan sering, >10x dalam 12 jam.
-       Keadaan umum ibu dan janin baik, kesadaran composmentis, TD : 110/70 mmHg, N: 88 x/ menit, S : 36 °C, RR : 24 x/ menit.
-       Palpasi abdomen
Leopold I                          : TFU= 31 cm, teraba bokong di fundus
Leopold II                         : PUKI
Leopold III                       : Presentasi kepala
Leopold IV                       : Kepala sudah masuk PAP 4/5 bagian
-       TBJ                                    : 3100 gram
-       Auskultasi                         : DJJ (+), irama teratur 11,12,11, frekuensi                                                      136 x/menit
2.      Masalah                                  : tidak ada
Dasar                                      : tidak ada
3.      Kebutuhan                             : tidak ada
4.      Diagnosa Potensial                : tidak ada
5.      Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
-          Mandiri                             : tidak ada
-          Kolaborasi             : tidak ada
-          Rujukan                             : tidak ada


D.    Planning (P)
Hari/tanggal  : Rabu, 23 Maret 2011, pukul 09.45  wita

1.      Menginformasikan pada ibu untuk makan yang teratur dan menambah frekuensinya sesering mungkin, porsi sedikit tapi sering serta mengkonsumsi makanan yang bervariasi makanan yang bergizi seperti susu dan buah- buahan
2.      Tanda-tanda bahaya pada ibu misalnya pusing yang berkepanjangan disertai mata berkunang-kunang, anemia berat sampai pingsan, muntah yang berlebihan, perdarahan, pecah air ketuban sebelum waktunya, bengkak (oedema) pada wajah-kaki-tangan.
3.      Menjelaskan persiapan persalinan yaitu Pendonor, Persiapan Biaya, Persiapan     Penolong, Persiapan Ibu Dan Bayi , Dan Kendaraan, dan tanda- tanda persalinan yaitu keluarnya darah campur lendir, sakit perut yang menjalar ke punggung jika jalan sakitnya bertambah.
4.      Menginformasikan mengenai mengenai olahraga ringan taitu jalan-jalan setiap pagi dan sore minimal 15 menit agar membantu mempercepat penurunan kepala janin dan mempermudah melahirkan.
5.      Memberikan ibu obat (Fe) 1 bungkus, fungsinya untuk penambah darah diminum 1x sehari adapun efek sampingnya bisa menyebabkan mual muntah, konstipasi (susah BAB) kemudian feses berwarna kehitaman adapun penagulanganya  jika ibu mual muntah minumnya menjelang tidur, namun jika ibu konstipasi makan makanan yang banyak mengandung serat seperti sayur-sayuran atau buah-buahan dan minum air putih ± 8 gelas sehari.
6.      Menganjurkan pada ibu melakukan kunjungan ulang 1 minggu berikutnya yaitu pada tanggal 30 Maret 2011.
7.      Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan ibu tampak tenang karena sudah mengetahui keadaannya dan bayinya
8.      Ibu bersedia untuk makan yang teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi
9.      Ibu sudah mengetahui tentang tanda- tanda bahaya pada ibu hamil dan tanda-tanda persalinan
10.  Ibu sudah mendapat tablet Fe dan ibu mengetahui fungsi dari obat yang diberikan serta ibu bersedia meminumnya sesuai dengan anjuran
11.  Ibu bersedia melakukan kunjuangan ulang 1 minggu lagi yaitu pada tanggal 30 Maret 2011 dan segera ke petugas jika ada keluhan.

























BAB IV
PEMBAHASAN
                       
Dalam pengkajian yang telah dilakukan semuanya sudah sesuai dengan teori, dan dapat disimpulkan bahwa kehamilan Ny “I” dalam keadaan normal, akan tetapi semua kehamilan dikatakan beresiko karena belum tentu dalam proses persalinan nanti akan berlangsung dengan normal, sehingga perlu dijelaskan pada ibu supaya ibu dan keluarga siap menghadapi kemungkinan- kemungkinan yang terjadi,
            Asuhan kebidanan pada Ny “I” telah dilakukan sesuai dengan diagnosa, masalah dan kebutuhan pasien dan hasil evaluasinyapun sesuai dengan rencana asuhan yang diberikan.

















BAB V
PENUTUP


5.1.   Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa :
a.      Untuk melakukan pengkajian data dasar (data obyektif dan subyektif)
b.      Untuk menginterpretasi data dasar dan identifikasi diagnosis masalah
c.      Untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
d.     Untuk mengidentifikasi kebutuhan segera
e.      Untuk melakukan rencana asuhan menyeluruh
f.       Untuk melakukan pelaksanaan asuhan menyeluruh atau implementasi
g.      Untuk melakukan evaluasi.
5.2.   Saran
a.      Bagi ibu hamil, dengan adanya asuhan kebidanan dihrapkan dapat mengetahui perkembangan dari kehamilan dan janinnya
b.      Bagi bidan atau petugas kesehatan diharapkan dapat memantau dan mengantisipasi adanya penyulit – penyulit yang terjadi pada kehamilan, proses persalinan dan masa nifas.
c.      Bagi Mahasiswa dapat melakukan pengkajian kesehatan ibu hamil dengan 7 langkah Varney dengan pendokumentasian menggunakan SOAP dan apa saja yang terjadi pada ibu hamil trimester ke II dan dapat memberikan konseling.





DAFTAR PUSTAKA

Lusa (2010) dalam tanda bahaya trimester I Home Page diambil tanggal 25 Desember 2010 dari http:// www.lusa.com/dalam tanda bahaya trimester I.html

Mochtar, R. 2002. Sinopsis Obstetri.EGC : Jakarta
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Pusdiknakes. 2001.  Asuhan Antenatal. WHO-JHPIEGO, buku 2
Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC.
Varney Helen,dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.Jakarta : IGC
Wiknjosastro H.2007.Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar