Kamis, 21 Juli 2011

Kejadian Lua Biasa Malaria


KLB
Kejadian Luar Biasa

a.      Temanggung KLB Malaria

Temanggung (ANTARA News) - Serangan penyakit malaria yang menimpa lima warga Dusun Bakal, Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mendorong Dinas Kesehatan Temanggung menyatakan daerah itu berstatus kejadian luar biasa (KLB) malaria.
Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Temanggung, Edi Rachmanto, di Temanggung, Sabtu, lima warga yang terjangkiti adalah Irfan (12), Puji (50), dan Janatun (35) menderita malaria vivax. Sementara Ivan (9) dan Hafal (6,5) menderita malaria falcivarum. Mereka dirawat petugas Puskesmas.Sejak Kamis (13/3) hingga Sabtu (15/3), katanya, petugas telah mengambil sampel darah ksekitar 1.500 warga untuk penelitian. Kasus malaria yang menyerang lima warga, katanya, merupakan pertama kali untuk kategori penularan setelah peristiwa serupa terjadi pada tahun 1970.
Serangan malaria di Temanggung selama ini, katanya, tertular para pendatang. Pada tahun 2007 di daerah ini ditemukan 52 kasus malaria. Sedangkan selama bulan Januari hingga Maret 2008 ditemukan 47 kasus yang terdiri atas 42 kasus karena penularan pendatang dan lima lainnya penularan lokal. Seorang dari lima penderita pertama di desa itu, katanya, selama ini tidak pernah bepergian. Petugas selanjutnya mengambil sampel daerah warga. Namun hingga kini belum diketahui hasilnya karena masih diuji di laboratorium," katanya.
"Petugas kesehatan telah melakukan penelusuran nyamuk anopheles penyebab malaria dan menemukan seekor nyamuk anopheles aconitus. Hasil penelitian, nyamuk itu ternyata belum pernah bertelur sehingga petugas memastikan nyamuk itu belum pernah menggigit manusia," katanya.
Namun, katanya, petugas belum menemukan tempat pengembangbiakan nyamuk itu karena diperkirakan tempatnya telah terbawa air hujan yang turun setiap hari di kawasan tersebut.Petugas kesehatan telah bersiaga setiap saat untuk memantau perkembangan kesehatan masyarakat dengann membuka Posko KLB Malaria di Puskesmas. Ia mengimbau masyarakat mewaspadai serangan penyakit malaria dengan cara memeriksakan diri jika menjumpai warga yang sakit dengan gejala pusing, menggigil, demam, mual, dan muntah. "Gejala-gejala seperti akan terjadi selama 1 jam hingga 2 jam. Namun setelah itu penderita terlihat normal, kemudian bisa kambuh lagi. Serangan bisa terjadi lagi sehari hingga 3 hari sekali," katanya.(*)
b.      Penanganan
Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit di wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian yang mengejutkan dan membuat panik masyarakat di wilayah itu. Secara umum kejadian ini kita sebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), sedangkan yang dimaksud dengan penyakit adalah semua penyakit menular yang dapat menimbulkan KLB, penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan dan keracunan lainnya. Penderita atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan KLB dapat diketahui jika dilakukan pengamatan yang merupakan semua kegiatan yang dilakukan Secara teratur, teliti dan terus-menerus, meliputi pengumpulan, pengolahan, analisa/interpretasi, penyajian data dan pelaporan. Apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya tersangka KLB, maka perlu dilakukan penyelidikan epidemiologis yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasan KLB tersebut di samping tindakan penanggulangan seperlunya (Depkes, 2000).
Hasil penyelidikan epidemiologis mengarahkan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam upaya penanggulangan KLB. Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu (Depkes, 2000). Suatu penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1.      Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2.      Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
3.      Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
4.      Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5.      Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6.      Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7.      Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
8.      Beberapa penyakit khusus : kolera, DHF/DSS
§  Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis).
§  Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9.      Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a) Keracunan makanan
b) Keracunan pestisida
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002).
Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini, dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A., 2003).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar