Rabu, 19 September 2012

Psikopat, Defisiensi Moral, dan Abnormalitas Seksual


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latara Belakang Masalah
            Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial sehingga ia selalu berada bersama-sama dengan manusia lain dalam komunitas. Disetiap komunitas ada tata cara atau norma-norma yang mengatur perilaku dari setiap manusia yang di dalamnya saling berinteraksi satu dengan yang lainnya sekarang semuanya kembali kepada kita......
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kita sering menyaksikan perilaku mannusia yang aneh-aneh, baik melihat yang aneh-aneh, baik dengan melihat dengan mata kepala sendiri maupun melalui berita di media massa baik cetak maupun elektronik.
Contoh:
  • Seseorang tega membunuh teman sendiri gara-gara permasalahan sepele tanpa hati nurani.
  • Berita-berita kriminalitas, baik kecil maupun besar, seperti: curanmor, penodongan, dan perampokan.
  • Seorang kakek tega menyodomi anak-anal di bawah umur.
Kejadian tersebut  diatas dewasa ini seperti santapan sehari-hari, tiada hari tanpa pembunuhan, preampokan, penyimpangan seks. Dari sekian banyak perilaku manusia yang tergolong abnormal adalah psikopat, defisiensi moral, dan abnormalitas seksual. Psikopat disebut juga pribadi sosiopatik atau pribadi anti sosial/asosial/dissosial, yang merupakan prilaku psikopatologis dengan ditandai ketidakmampun menghayati nilai-nilai antar pribadi, sosial, dan moral.








BAB II
PEMBAHASAN
A. PSIKOPAT

Psikopat atau psikopati disebut juga sosiopatik karena dari perbuatan-perbuatannya masyarakat menderita dan dirugikan. Penderita psikopat pada umumnya tidak menyadari bahwa dirinya ada kelainan, dan tidak merasakan sendiri penyakitnya. Penderita psikopat seolah-olah tidak memiliki hati nurani dan suka beRbuat seenaknya tanpa memedulikan kepentingan orang lain.
1.      Pengertian Psikopat
a)      Psikopat adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral selalu konfik dengan norma sosial dan hukum yang diciptakan oleh angan-angannya sendiri. Kartini Kartono,1989
b)      Psikopat(i) dipakai untuk menggambarkan manifestasi psikopatologis di dalam prilaku dan perbuatan individu. Gunnarsa S.S., 1985
c)      Psikopat adalah kelainan prilaku khususnya berbentuk perilaku yang antisosial, yaitu tidak memedulikan norma-norma sosial (Sarwono, sarlito Wirawan, 2000).
2.      Penyebab Psikopat
a)      Menurut Kartini Kartono (1989)penyebab utama psikopat, yaitu:
1.      Tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya pada masa muda.
2.      Pada tahun-tahun pertama kehidupan (0-3 tahun), tidak pernah memperoleh kemesraan dan kelembutan dari lingkungannya.
Akibatnya:
1.      Kehiangan dan kemampuan untuk menberikan vinta kasih dan simpati kepada orang lain.
2.      Kehilangan perasaan sosial dan kemanusiaan
3.      Todak mampu menjalin hubungan antar manusia
4.      Diliputi perasaan tidak senang dan tidak puas.
5.      Diliputi rasa kebencian, dendam, curiga, penolakan, rasa dikejar-kejar dan dituduh, gelisah, tegang, ketakutan, kacau balau, dan dibayangi pikriran yang kegila-gilaan.
6.      Akhirnya terjadi disintegrasi dan disorganisasi keperibadian, yang ditandai dengan memiliki rasa sosial dan rasa rasa kemanusiaan yang wajar.
b)      Menurut Gunarsa, singgih D., dan Ny.Gunarsa Singgih D.(1985), asal usul psikopat ditinjau dari sudut psikodinamika dan genetika bersumber dari kelakuan menyimpang pada masa anak dan kenakalan remaja. Tanda-tandanya sebagai berikut:
1.      Tidak pernah membentuk keterikatan yang baik dengan orang tua atau pengganti orang tua.
2.      Suka melawan terhadap hal-hal yang dilarang oleh masyarakat karena biasa dimanja dan merasa diperlakukan tidak adil.
3.      Membutuhkan penerimaan orang laindan ada persalahan bersalah, tetapi tidak terjalin dengan baik dalam pribadi keseluruhannya.
3.      Gejala Psikopat
a)      Sikap kurang ajar, kasar, dan ganas.
b)      Beperilaku asosial dan eksentrik.
c)      Suka mengembara tanpa tujuan.
d)     Berperibadi labil dan respon tidak adekuat.
e)      Tidak loyal kepada siapapun.
f)       Emosional, tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab.
g)      Kadang terdapat penyimpangan seksual.
h)      Tidak mau nelajar dari pengalaman baik.
4.      Bentuk Psikopat
Menurut beberapa ahli, dibedakan empat bentuk psikopat, yaitu:
a)      Tipe simpatik, tetapi tidak bertanggung jawab
b)      Tipe pendendam dan pemberontak, tipe ini orangnya gemat memusuhi dan memberontak terhadap hal-hal yang tidak disenangi.
c)      Tipe hipokondris dan tidak adekuat
d)     Tipe anti sosial
B. DEFISIENSI MORAL

1.   Pengertian
Defisiensi moral (defect moral) dicirikan dengan individu yang hidupnya delinquent, selalu melakukan kejahatan (crimes) dan berperilaku antisosial, tetapi tidak ada penyimpangan atau gangguan pada inteleknya (Kartini Kartono, 1989).
2.   Penyebab
            Penyebab utama adalah terpisah (separation) dengan orang tua pada usia kurang dari 3 tahun, khususnya berpisah dengan ibunya pada umur 0-4 tahun. Efek dari perpisahan ini adalah tidak mendapatkan afeksi, dan selalu mendapatkan perlakuan yang keras dan kejam. Akibat dari perpisahan ini, individu menjadi pendendam, mempunyai sifat agresi, miskin hubungan kemanusiaan, emosinya dingin dan beku, tidak memiliki super ego, adanya penolakan super ego dan hati nurani, serta prilaku psikotis, retardasi mental, IQ rendah, dan kebekuan yang kronis.
3.   Kelemahan dan Kegagalan Individu pada Defisiensi Moral
a)      Tidak mampu mengenal, mengerti, mengendalikan, dan mengatur emosi dan perilaku.
b)      Memiliki perilaku yang salah dan jahat (misconduct).
c)      Kegagalan dalam mengadakan penyesuaian terhadap hukum, norma-norma, dan standar sosial yang berlaku.
4.   Ciri-Ciri Defisiensi Moral
a)      Secara fisik dan organik normal (ada yang pandai, cerdik, menarik, dan pandai bicara), namun pada umunya bersifat semaunya, keras kepala, pikiran sering berubah-ubah (grilling) perangai kasar dan munafik.
b)      Egosentris, tidak memedulikan hak dan peranan orang lain.
c)      Tidak memiliki perasaan (afeksi), tidak tahu berterima kasih, tidak tahu malu, dan tidak merasa bersalah atau berdosa, Tidak memiliki rasa tanggung jawab
d)     Sombong, tidak tahu harga diri.
e)      Tidak mau belajar dari pengalaman yang baik.
f)       Tidak berjiwa toleran terhadap orang lain.
g)      Tidak dapat dipercaya
h)      Menentang kedisiplinan, peraturan, dan otoriter.
i)        Belajar mencuri dan berbuat kejahatan sejak usia muda sehingga akan menjadi penjahat yang permanen.
j)        Emosi tidak terkendali dan susah diatur.
k)      Kata-katanya kotor dan memuakkan.
l)        Gangguan perkembangan mental disebabkan oleh disfungsi intelegensi.
m)    Kelemahan dorongan-dorongan instingtif primer yang berakibat ego menjadi lemah, kemiskinan afektif, tanpa selfrespect, dan ada relasi yang amat longgar dengan sesama manusia.
n)      Pembentukan super ego yang lemah sekali sehingga impulsnya dalam tataran yang sangat primitif tidak bisa dikikontrol dan dikendalikan, cepat puas disertai emosi kemarahan yang meledak-ledak, dan bersikap bermusuhan.
5.      Kelompok yang Termasuk Defisiensi Moral
a)      Anak-anak rusak (demage children)
Sikap ini terjadi akibat terlalu lama berpisah dengan ibunya sejak masa bayi.
b)      Juvenile deliquency
Iuvenile deliquency adalah anak-anak muda (biasanya dibawah umur 18 tahun) yang selalu melakukan kejahatan dan melanggar hukum yang dimotivasi oleh keinginan untuk mendapaykan perhatian, satutus sosial dan penghargaan dari lingkungannya (Kartini Kartono, 1989)











C. ABNORMALITAS SEKSUAL

            Menurut Freud, salah satu faktor yang mendorong manusia berperilaku adalah energi psikis berupa libido seksual (libido = dorongan hidup, mafsu erotis). Energi psikis bukan saja menimbulkan menimbulkan perilku di bidang seks, berupa relasi seksual (hubungan seksual), tetapi juga perilaku nonseksual.
            Relasi seksual secara normal adalah mekanisme manusia yang vital untuk meneruskan keturunan dan menjaga agar manusia tidak punah. Seks dapat merupakan hubungan sosial yang biasa dilakukan oleh pria maupun wanita, tetapi dapat juga menimbulkan relasi seksual yang sifatnya erosi. Pada relasi sekssual yang normal kedua belah pihak menghayati bentuk kenikmatan dan puncak kenikmatan seksual (organisme).
Bentuk relasi seksual yamg heteroseksual apabila dilakukan oleh dua jenis kelamin yang berbeda, dan homoseksual apabila dilakukan oleh kedua kelamin yang sama. Namun rellasi homoseksual biasanya dipakai untuk menyebut hubungan sesama jenis laki-laki dan untuk wanita dengan wanita disebut lesbian. Untuk menjaga hal-hal yangh bertentangan dengan norma dan moral diharapkan laki-laki dan wanita dewasa maupun melaksanakan maupun melaksanakan relasi seksual yang adekuat, artinya mampu melakukan relasi seksual yang normal dan bertanggung jawab.
1.   Prilaku Pribadi Normal  dan Abnormal
Sebelum dibicarakan lebih lanjut tentang abnormalitas seksual, akan disinggung terlebih dahulu tentang istilah normal dan abnormal yang terkait dengan prilaku pribadi.
a.       Normal diartikan sebagai keadaan sehat atau tidak patologik dalam hal fungsi keseluruhan (Maramis, 1999).
b.      “Perilaku yang normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat), yang bisa di terima oleh masyarakat pada umumnya “ (Kartini Kartono, 1989).
c.       “Perilaku pribadi normal ialah sikap hidup sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada sehingga tercapai satu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan” (Kartini Kartono, 1989).
Kriteria Pribadi Normal
Menurut Gunarsa S.D. dan Ny. Gunarsa S.D. (1989) yang mengutip pendapat A.H. Maslow S., Bela, dan Mittlemann bahwa kriteria pribadi yang normal sebagai berikut.
a.       Perasaan aman yang adekuat.
b.      Memiliki penilaian diri dan wawasan yang rasional.
c.       Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang adekuat.
d.      Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien.
e.       Memilki dorongan dan nafsu jasmaniah yang sehat, serta mempunyai kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya.
f.       Mempunyai pengetahuan diri yang adekuat.
g.      Mempunyai tujuan hidup yang adekuat.
h.      Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.
i.        Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntunan dan kebutuhan kelompok.
j.        Emansipasi yang pantas dan sehat dari kelompok dan kebudayaan.
k.      Memilki integritas dan konsistensi kepribadian.
Menurut Atkinson R.L. dkk. Menetapkan 6 kriteria normalitas, yaitu :
a.       Persepsi dan realitas yang efesien Individu dalam menilai reaksi dan kemampuan mengintepretasikan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya secara realistik
b.      Mengenali diri sendiri Individu yang mampu melakukan penyesuaian, memiliki kesadaran, perasaan, dan motif secara baik.
c.       Kemampuan mengendalkanperilaku secara sadar Kepercayaan atas kemampuan diri individu untuk mengendalikan perilakunya.
d.      Harga dirinya dan penerimaan Kemampuan menyesuaikan diri, mampu menilaiharga dirinya sendiri, dan merasa diterima orang lain.
e.       Kemampuan membentuk ikatan kasih Mampu menjalin hubungan yang erat dan harmonis dengan orang lain.
f.       Produktivitas Mampu menyesuaikan diri dan menyalurkan kemampuan dengan baik ke aktivitas produktif.
2.       Keriteria Pribadi Abnormal
            Perilaku pribadi abnormal adalah peribadi yang menyimpang jauh dari perilaku pribadi normal. Dapat juga diartikan bahwa pribadi abnormal bila berada jauh  berbeda dari keadaan integrasi ideal.
            Menurut atkinson R.L dkk perilaku abnormal dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
  1. Statistik Prilaku abnormal adalah yasng secara statistik jarang atau menyimpang dari normal.
  2. Maladaptif prilaku abnormal jika bersifat maladaptif dan memeiliki pengaruh buruk pada individu atau masyarakat.
  3. Menyimpang dari norma sosial Prilaku yang menyimpangs secara jelas dari standar atau norma dalam masyarakat.
  4. Distres pribadi Adanya perasaan disters sunjektif individual.
3.   Penyebab Abnormalitas
            Penyebab yang mendasari seseorang abnormal menurut Kartini Kartono (1989) sebagai berikut:
a)      Faktor keturunan (hereditas)
·         Idiopathy (penyakit yang timbul dari dalam organ tubuh)
·         Psikosis (penyakit mental yang parah)
·         Neurosis (penyakit saraf)
·         Ideocy (ketidak sempurnaan mental pada tingkat rendah)
·         Psikosis sifilitik
b)   Faktor sebelum lahir (pranatal)
·         Kekurangan nutrisi
·         Infeksi
·         Luka
·         Keracunan
·         Menderita penyakit
·         Menderita psikosis
·         Trauma pada kandungan
c)   Faktor ketika lahir (natal)
·         Kelahiran dengan tang (tangverlossing)
·         Asphixia (kekurangan O2 dalam udara pernafasan)
·         Prematurity (lahir sebelum waktunya)
·         Primogeniture (primipara = wanita yang hamil sekai dan melahirkan anak pertama)
c)      Faktor setelah lahir (pascanatal)
·         Pengalaman traumatik
·         Kejang atau stuip
·         Infeksi pada otak atau selaput otak
·         Kekurangan nutrisi
·         Faktor psikologis
4.   Prilaku Seksual Normal
            Perilaku seksual ini dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntunan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai kebahagiaan, perwujudan diri sendiri, atau peningkatan kemampuan individu untuk mengembangkan keperibadiannya menjadi lebih baik (Maramis, 1999). Pendapat Kartini Kartono (1989), yang dimaksud perilaku seksual yang normal mengandung pengertian sebagai berikut.
a)      Gangguan kemampuan seksual, termasuk dalam kelompok ini adalah impotensi, ejakulasi pradini, frigiditas, disparenia, dan vaginismus, serta hipo dan hiper seksual.
b)      Deviasi seksual (penyimpangan seksual) termasuk dalam kelompok ini adalah homoseksualitas dan lesbianisme, fetisisme, pedofilia, transfestitisme, exhibisionism, voyeurism, sadisme dan masokisme, serta transeksualisme.
Menurut Kartini Kartono (1989), abnormalitas seksual dibedakan menjadi:
a)      Abnormalitas seks yang disebabkan oleh dorongan seksual yang abnormal. Termasuk dalam kelompok ini adalah prostitusi, promoskuitas, adultery (perzinahan), sedukasi, frigiditas, impotensi, ejakulasi dini/prematur/ precock,copulatory impotency dan phsykogenic aspermia, nimfomania, satiriasis, vaginismus, dispareuni, anorgasme, dan kesukaran hubungan seksual yang pertama.
b)      Abnormalitas seks yang disebabkan adanya partner seks yang abnormal. Termasuk dalam kelompok ini adalah homoseksualitas (oral erotisme, analerotisme, dan interfemoral hubungan seksual), lesbianisme, bestiality, zoofilia, nekrofilia, pornografi, dan obscenity, pedofilia, fetisisme, frottahe, gerontoseksualitas, incest, saliromania, wifeswiping, misofilia, koprofilia, dan urofilia.
c)      Abnormalitas seks dengan cara-cara abnormal dalam pemuasan dorongan seksual. Termasuk dalam kelomok ini adalah onani dan masturbasi, sadisme, masokisme dan sadomasokisme, voyeurism, exhibisionism sexual, skoptofilia, tranfestitisme, transeksualisme, troilism, atau triolisme.
Menurut Sulistio (1977), human sexual inedaquacy dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu:
a)      Cara-cara yang abnormal dalam pemuasan keinginan seks. Tremasuk dalam kelompok ini adalah sadisme, masokisme, exhibitionism, scoptophilia, voyeurism, troilism, atau triolisme, transvestisme, transseksualisme, sexualoralism, sodomi, atau seksual analism.
b)      Partner seksual yang abnormal (manusia atau obyek lain). Termasuk dalam kelompok ini adalah homoseksualitas, pedofilia, pornografi,obscenity, fetisisme, frottage, incest, saliromania, gerontoseksualitas, wifwswapping, misofilia, koprofilia, dan urofilia, koprofilia, serta masturbasi.
c)      Abnormal degree of desire and strength of sexual drive. Termasuk dalam kelompok ini adalah anorgasme, dispareunia, vaginisme, kesukaran hubungan seks pertama, frigiditas, impotensi, ejakulasi prematur, nimfomania, satiriasis, promiscuity, dan prostitusi, perkosaan, seduction, dan adultery.
5.   Bentuk-Bentuk Abnormalitas
o   Ejakulasi prematur: Peristiwa keluaranya sperma sebelum mencapai orgasme (ejakulasi sebelum waktunya, terlampau cepat, atau sebelum menghadapi)
o   Frigiditas: gairah seksual yang dingin atau tidak mengalami orgasme pada saat hubungan seksual pada wanita
o   Disparenia: hubungan seksual yang disertai nyeri(sakit) atau sukar. Sedangkan vaginismus: spasme(kejang) otot-otot vagina yang menyakitkan pada waktu hubungan seksual.
o   Hiposeksual: dorongan seksual yang kecil. Sedangkan hiperseksula: dorongan seksual yang besar.
o   Homoseksual: ketertarikan melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis(pria dengan pria atau wanita dengan wanita).
o   Fetisisme: hubungan seksual yang mencari gairah dan kepuasan seksual secara beuang dengan memakai benda mati(fetish) milik seks yang lain sebagai pengganti objek seksual.
o   Pedofilia: pemuasan seksual dengan objeknya anak, baik sejenis atau lawan jenis yang belum akil balig.
o   Transvestitisme: abnormalitas seksul pada-laki-laki heteroseksual dalam memperoleh kepuasan seksual dengan memakai pakaian wanita.
o   Exhibisionism: memperoleh kepuasan seksual dengan jalan memperlihatkan genitalianya secara berulang kepada orang lain yang tidak dikenal dan ingin melihatnya.
o   Voyeurism: memperoleh kepuasan seksual dengan melihat atau mengintip orang telanjang atau melakukan hubungan seksual tanpa sepengetahuan yang diintip.
o   Sadisme: memperoleh kepuasan seksual dengan cara menyakiti secara fisik atau psikologis objek seksualnya. Sedangkan Masokoisme: memperoleh kepuasan seksual dengan menyiksa diri sendiri secara fisik atau mental.
o   Transeksualisme: abnormalitas seksual berupa adanya gejala rasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya.
o   Prostitusi: merupakan bentuk penyimpangan seksual dengan pola dorongan seks yang tidak wajar, tidak terorganisasi dalam keperibadian sehingga hubungan seks tersebut bersifat imprasonal, tanpa kasih sayang, berlangsung dan tanpa mendapat orgasme dipihak wanita.
o   Promiskuitas: mengadakan hubungan seksual dengan banyak orang.
o   Adulteri/perzinahan: melakukan hubungan seksual oleh seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya atau legal.
o   Sedukasi/bujukan: melakukan hubungan seksual melalui bujukan dan godaan kepada partnernya yang sebenarnya melanggar norma susila atau norma hukum.
o   Perkosaan: melakukan hubungan seks dengan cara kekerasan dan paksaan.
o   Kopulatori impotensi: kemampuan pria untuk mengadakan ereksi tetapi tiba-tiba penis menjadi lemas seseudah masuk vagina.
o   Psychogenic aspernia: peristiwa tidak keluarnya sperma pada waktu melekukan seks.
o   Nimfomania: keinginan seksual yang luar biasa paada wanita yang ingin melampiaskan nafsu seksnya berulang kali tanpa melihat akibatnya.
o   Satyariasisme: keinginan seks yang tidak kunjung puas, patologis, dan luar biasa besarnya pada wanita.
o   Anorgasme: kegagalan mencapai orgasme selama hubungan seksual.
o   Kesukaran ubungan seksual pertama: mengalami kesulitan pada saat hubungan seksual yang pertamakali karena kekurangan pengalaman kedua belah pihak.
o   Onani atau masturbasi: memperoleh kepuasan seksual atau orgasme dengan jalan merangsang alat kelaminnya sendiri secara manual atau digital.
o   Skoptofilia: memperoleh kepuasan seksual dengan melihat sexual act dan genitalianya.
o   Troilisme: hubungan seksual dengan partner orang lain tersebut menontonnya.
o   Sexualoralism: kepuasan seksual yang didapat dari aplikasi bibir, lodah, mulut pada genitalianya.
o   Sosomi: kepuasan seksual dengan yang diperoleh dengan cara melakukan hubungan seksual melalui anus.
o   Bestiality: cinat yang abnormal terhadap binatang.
o   Nekrofilia: kepuasan seksual dengan melihat atau melakukan hubungan seksual dengan mayat.
o   Pornografi: tulisan atau gambar yang khusus dibuat untuk merangsang seks.
o   Obscenity: perkataan, gerak-gerik, dan gambar-gambar yang dianggap tidak sopan atau menjijikkan.
o   Frottage: mendapatkan kepuasan sekusal dengan cara meraba orang yang disenangi, biasanya tanpa sepengetahuan oleh korbannya.
o   Gerontoseksualitas: seseorang yang memperoleh kepuasan seksual dengan pasangan yang sudah usia lanjut.
o   Incest: hubungan seksual antara dua orang di dalam atau diluar perkawinan dengan keluarga dekat sehingga secara legal tidak dizinkan melakukan pernikahan.
o   Wifeswapping: meminjamkan istri sebagai kesopanan dan keramah-tamahan terhadap tamu.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

A.    Penderita psikopat pada umumnya tidak menyadari bahwa dirinya ada kelainan, da tidak merasakan sendiri penyakitnya. Penderita psikopat seolah-olah tidak memiliki hati nurani dan suka beRbuat seenaknya tanpa memedulikan kepentingan orang lain.
B.     Penyebab utama dari masalah-masalah di atas adalah terpisah dengan orang tua pada usia kurang dari 3 tahun, khususnya berpisah dengan ibunya pada umur 0-4 tahun. Efek dari perpisahan ini adalah tidak mendapatkan afeksi, dan selalu mendapatkan perlakuan yang keras dan kejam. Akibat dari perpisahan ini, individu menjadi pendendam, mempunyai sifat agresi, miskin hubungan kemanusiaan, emosinya dingin dan beku, tidak memiliki super ego, adanya penolakan super ego dan hati nurani, serta prilaku psikotis, retardasi mental, IQ rendah
C.     Perilaku seksual normal dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntunan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan individu mengenai kebahagiaan, perwujudan diri sendiri, atau peningkatan kemampuan individu untuk mengembangkan keperibadiannya menjadi lebih baik.
D.    Mekanisme pertahanan ego merupakan suatu proses unutk melindungi diri dari keadaan yang menyenagkan sehingga tidak akan mudah terbawa-bawa oleh suasana.









A. SARAN

            Dengan disusunnya makalah ini tentu mempunyai manfaat nilai guna bagi pembaca dan kami sendiri. Kami berharap dengan terselesainya makalah ini kita dapat memahami isi dan makna dan belajar dari apa yang dibahas seperti pengertian, gejala, dan bentuk dari psikopat, defisiensi moral dan abnormalitas seksual yang merupakan tuntunan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, kita akan tahu mana suatu hal perbuatan yang baik dan yang tidak, bagaimana kita memandang permasalahan yang menyimpang pada diri seseorang sehingga kita bisa menggolongkan seseorang tersebut apakah termasuk psikopat, defisiensi moral, atau abnormalitas seksual. Dan, semoga makalah ini dapat membangkitkan kesadaran dan semangat baru dalam diri kita untuk mengembangkan dan menelusuri pengetahuan.



















DAFTAR PUSTAKA


Hidayat,A.Aziz Alimul.2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Surabaya: Salemba Medika.
Sarwono, Sarlito Wirawan.1983.Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suyati, Sri. dkk. 1995. Psikologi Industri dan Sosial, Semarang : Pustaka Jaya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar